"Saya pernah jadi Asdos, tidak bisa sendiri mengajar atau membimbing tanpa supervisi dosen utama," tegasnya.
IPK 2,2 Jadi Sorotan
Roy Suryo juga mempertanyakan klaim Presiden Jokowi terkait Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semasa kuliah yang disebut hanya 2,2.
Menurutnya, dengan IPK tersebut, secara aturan tidak memungkinkan seorang mahasiswa menyelesaikan kuliah dalam waktu lima tahun.
"Kalau IP-nya 2 atau 2,2, maka mahasiswa hanya boleh mengambil maksimal 18 SKS per semester. Dengan beban kuliah 148–154 SKS, itu sulit diselesaikan dalam lima tahun," papar Roy.
Dua Hal Terbongkar
Roy Suryo menyimpulkan ada dua hal penting yang terbongkar dalam polemik ini:
- Durasi studi yang tak sesuai dengan aturan akademik, Jokowi mengaku menyelesaikan kuliah dalam lima tahun, namun dengan IPK rendah seharusnya sulit secara aturan akademik.
- Status pembimbing skripsi yang diragukan, Kasmudjo bukan dosen pembimbing skripsi, bahkan mengaku hanya sebagai Asdos pada masa itu.
"Dua hal ini sudah cukup membuka tabir pertanyaan publik soal keabsahan latar belakang akademik Pak Jokowi," pungkas Roy Suryo.*