Menurut Japorman, sikap keduanya yang mengabaikan instruksi DPP bisa mencederai loyalitas dan militansi dalam partai.
"Saya sebagai mantan Ketua DPD merasa heran. Kok bisa ada pimpinan partai setingkat DPD dan DPC tidak tegak lurus terhadap keputusan DPP, yang sudah ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Ibu Megawati dan Sekjen Hasto Kristiyanto," ujar Japorman kepada wartawan di Medan, Selasa (17/3/2026).
Japorman menilai bahwa, sebagai petinggi di partai, Rapidin dan Hasyim seharusnya menunjukkan teladan dengan menjalankan instruksi DPP.
Namun, kenyataannya, keduanya justru bertindak bertentangan dengan petunjuk partai, terutama terkait pemilihan nama-nama dalam struktur kepengurusan.
Seperti diberitakan sebelumnya, Hasyim, selaku ketua terpilih DPCMedan, memutuskan untuk tidak mengakomodasi dua nama, Robi Barus dan David Roni Ganda Sinaga, dalam struktur kepengurusan yang mendampinginya.
Kedua nama tersebut sebelumnya telah diusulkan oleh DPP. Sebagai gantinya, Hasyim memilih Boydo Panjaitan dan Fuad Akbar sebagai sekretaris dan bendahara DPCMedan.
Hasyim beralasan bahwa pemilihannya terhadap Boydo dan Fuad Akbar adalah hak prerogatifnya, sebagai ketua DPCMedan yang baru.
"Hak prerogatif di partai ini hanya ada pada Ketua Umum Ibu Megawati, bukan pada siapa pun di tingkat DPD atau DPC. Jangan mengada-ada dengan menyatakan punya hak prerogatif. Itu salah besar dan yang seperti ini harus ditindak tegas," ujar Japorman dengan nada keras.
Japorman juga menyayangkan keterlambatan dalam penetapan Surat Keputusan (SK) DPC untuk Medan, Tapanuli Tengah (Tapteng), dan Simalungun, yang menurutnya dapat menghambat konsolidasi partai menjelang Pemilu 2029.
Ia menegaskan bahwa jika Rapidin dan Hasyim mengikuti instruksi DPP dengan tegak lurus, masalah ini tidak akan berlarut-larut.
"Jika saja Ketua DPDSumut mengikuti instruksi DPP, tentu masalah SK ini tidak akan terjadi. Sebagaimana petunjuk DPP, seharusnya Konfercab sudah selesai pada tahun 2025 agar konsolidasi di semua tingkatan kepengurusan bisa berjalan dengan baik. Ini penting untuk mempersiapkan partai agar siap tempur pada Pemilu 2029," lanjut Japorman, dengan semangat.
Menurut Japorman, berlarut-larutnya masalah penetapan SK tersebut akan mengganggu jalannya konsolidasi internal PDIP.
Sebagai salah satu partai besar yang tengah mempersiapkan strategi untuk Pemilu 2029, PDIP harus memastikan bahwa setiap elemen dalam struktur partai bekerja dengan solid dan sejalan dengan keputusan DPP.
Tanpa adanya kesatuan dan keselarasan antara DPD dan DPP, Japorman khawatir PDIP akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi tantangan politik di masa depan.
"Partai ini tidak boleh terpecah. Konsolidasi harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik. Agar nantinya PDIP bisa menghadapi Pemilu 2029 dengan kekuatan penuh dan tetap menjadi partai yang solid serta dapat diandalkan oleh rakyat," pungkas Japorman.*
(ad)
Editor
: Raman Krisna
Pertanyakan Loyalitas Rapidin dan Hasyim Terhadap DPP PDIP, Japorman Saragih Tegaskan Hanya Ketua Umum yang Memiliki Hak Prerogatif