Gempa Kuat Hantam Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Bangunan Runtuh
CARACAS Pemerintah Venezuela mengerahkan seluruh sumber daya untuk menangani dampak gempa bumi kuat yang mengguncang sejumlah wilayah di
INTERNASIONAL
JAKARTA – Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai lini bisnis, perusahaan diminta untuk tidak lengah terhadap potensi ancaman siber yang kian canggih dan berkembang pesat.
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menegaskan bahwa keamanan siber saat ini sudah bukan lagi menjadi tanggung jawab eksklusif tim IT.
Sebaliknya, ini merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dijalankan oleh setiap elemen dalam perusahaan.
"Keamanan siber kini bukan lagi urusan divisi IT semata. Ini menyangkut semua orang, dari level individu hingga korporasi," kata Edwin dalam keterangannya, Rabu (7/8/2025).
Ancaman Datang dari Perangkat Pribadi
Edwin mengungkapkan, penggunaan perangkat pribadi seperti smartphone, smartwatch, dan tablet yang terhubung ke jaringan internal perusahaan membuka celah baru bagi para pelaku kejahatan siber. Dengan semakin luasnya permukaan serangan, upaya perlindungan menjadi semakin kompleks.
"Setiap perangkat yang terhubung ke jaringan adalah potensi pintu masuk serangan. Risiko ini meningkat seiring fleksibilitas kerja dan penggunaan BYOD (Bring Your Own Device)," tambahnya.
AI Memicu Evolusi Ancaman Siber
Kecepatan dan kecanggihan serangan kini meningkat karena pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber. Dalam hal ini, Fortinet menyarankan perusahaan untuk melakukan pelatihan keamanan siber secara menyeluruh dan rutin kepada seluruh karyawan.
"Percuma punya alat keamanan canggih kalau tidak ada yang bisa mengoperasikannya," tegas Edwin.
Fortinet Tawarkan Solusi Edukasi dan Teknologi
Sebagai bagian dari komitmennya, Fortinet menawarkan layanan penilaian risiko siber dan pembuatan cetak biru keamanan secara gratis. Selain itu, perusahaan juga mengintegrasikan teknologi AI dalam solusi keamanannya—termasuk deteksi berlapis, pemantauan anomali, hingga analisis aktivitas mencurigakan di dark web.
Membangun Budaya Keamanan Siber
Edwin menekankan bahwa perlindungan maksimal terhadap aset digital hanya bisa dicapai jika perusahaan membangun budaya keamanan (security culture) yang kuat. Tiga elemen kunci yang harus berjalan beriringan adalah:
People (Sumber Daya Manusia)
Process (Prosedur dan SOP)
Technology (Alat & sistem keamanan)
"Dengan membangun budaya keamanan, perusahaan tidak hanya reaktif saat terjadi serangan, tapi juga proaktif mencegahnya sejak awal," tutup Edwin.*
(ms/j006)
CARACAS Pemerintah Venezuela mengerahkan seluruh sumber daya untuk menangani dampak gempa bumi kuat yang mengguncang sejumlah wilayah di
INTERNASIONAL
JAKARTA Presiden ke7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) disebut telah menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat terkait kasus du
POLITIK
JAKARTA Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengusut tuntas dugaan pemberian uang s
NASIONAL
JAKARTA Istri mantan Menteri Agama periode 20202024, Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, Eny Retno Yaqut, menyampaikan apresiasi atas l
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi. Mata ua
EKONOMI
JAKARTA Harga cabai rawit merah masih menjadi komoditas pangan dengan harga tertinggi di tingkat pedagang eceran nasional pada Kamis (25
EKONOMI
JAKARTA Harga emas batangan PT Antam Tbk pada perdagangan Kamis (25/6/2026) terpantau stabil di level Rp2.655.000 per gram. Meski harga
EKONOMI
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dua arah pada awal perdagangan Kamis (25/6/2026). Setelah sempat dibuka melemah di z
EKONOMI
JAKARTA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyoroti kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,8 yang mengguncang w
NASIONAL