JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam kehidupan sehari-hari semakin meluas.
Dari membuat resep masakan, menyusun makalah, hingga menghasilkan foto dan video digital, teknologi ini kian merambah berbagai aspek kehidupan masyarakat.Namun, di balik manfaatnya, AI generatif juga menyimpan ancaman serius, terutama terkait penyalahgunaan data pribadi.
Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh tren foto polaroid hasil AI yang menampilkan seseorang bersama idolanya, mulai dari artis K-Pop hingga pemain Timnas Indonesia. Beberapa foto bahkan dianggap tidak pantas secara etika karena menunjukkan adegan yang terlalu personal.
Tiga pemain Tim Nasional Indonesia, Rizky Ridho, Justin Hubner, dan Sandy Walsh, angkat bicara mengenai penggunaan foto mereka tanpa izin oleh penggemar. Foto-foto tersebut diolah dengan AI sehingga seolah-olah mereka sedang berpelukan atau dicium oleh penggemarnya.
"Teman-teman minta tolong lebih sopan lagi ya, tidak perlu edit kayak gini," tulis Rizky Ridho dalam Instagram Story-nya.Sementara itu, Sandy Walsh menegaskan permintaannya agar masyarakat tidak mengedit fotonya menggunakan AI.
Ia khawatir hal ini menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.Menurut pengamat komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, penggunaan foto pribadi tanpa izin, apalagi diolah dengan AI, bisa berujung pada pelanggaran etika hingga tindak pidana.
Potensi penyalahgunaan bisa mencakup penipuan, pencemaran nama baik, hingga penyebaran hoaks."Kalau foto ini dipakai untuk mendiskreditkan orang, misalnya menjelang pemilu, bisa sangat berbahaya. Misalnya saya dikesankan pernah berselingkuh melalui rekayasa fotoAI," jelas Firman, Jumat (19/9/2025).
Firman juga menyoroti pentingnya regulasi yang kuat. Ia mencontohkan Denmark, yang telah memiliki undang-undang perlindungandata pribadi yang melindungi penggunaan wajah, suara, dan ciri biometrik lainnya secara ketat.
Di Indonesia, menurutnya, aspek ini masih lebih banyak diatur dalam ranah etika ketimbang hukum.Selain soal etika, penggunaan foto pribadi di platform AI juga berisiko dari sisi keamanan data.
Dosen Hukum dan Teknologi Digital dari Universitas Prasetiya Mulya, Fachry Hasani Habib, menilai masyarakat perlu memahami secara menyeluruh syarat dan ketentuan platform AI sebelum mengunggah data pribadi mereka."Wajah adalah data biometrik yang sangat sensitif. Platform bisa saja menyalahgunakannya. Masyarakat harus tahu bagaimana data tersebut diproses," ujar Fachry.
Menurut laporan OECD Artificial Intelligence Papers (2024), pelatihan AI skala besar kerap mengandalkan data pribadi yang dikumpulkan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Ini menimbulkan risiko serius terhadap privasi dan keamanan individu.
Risiko penyalahgunaan teknologiAI bukan sekadar teori. Pada 2023 lalu, Porcha Woodruff, seorang warga Detroit, AS, menjadi korban salah tangkap polisi akibat teknologi pengenalan wajah. Polisi menduga Porcha sebagai pelaku pembajakan mobil, berdasarkan data wajah yang ternyata keliru. Kasus ini dibatalkan sebulan kemudian karena kurangnya bukti.
"Inilah bahaya nyata AI jika tidak diuji secara ketat dan tidak diatur dengan jelas. Teknologi pengenalan wajah masih bisa bias dan menyesatkan," tulis Innocence Project, organisasi di AS yang menangani kasus Porcha.Fachry menegaskan, penggunaan AI harus selalu mempertimbangkan aspek legal dan persetujuan.
Mengunggah foto orang lain tanpa izin bisa dianggap pelanggaran terhadap perlindungandata pribadi."Kalau tidak ada persetujuan, maka bisa masuk pelanggaran. Bahkan untuk foto vulgar atau pornografi, sudah ada payung hukum seperti UU ITE dan UU Pornografi yang bisa menjerat pelaku," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa platform penyedia AI tunduk pada berbagai peraturan, termasuk ketentuan Penyelenggaraan Sistem Elektronik, yang menekankan pentingnya perlindungandata pengguna.Teknologi AI menawarkan kemudahan dan kreativitas tanpa batas. Namun, penggunaannya tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab moral dan hukum.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat memanfaatkan AI, terutama dalam menggunakan foto pribadi yang menyangkut privasi orang lain.Tanpa regulasi dan kesadaran yang memadai, AI justru bisa menjadi senjata yang menyakiti, bukan sekadar alat yang membantu.*
(tt/a008)
Editor
: Abyadi Siregar
Waspada! Penyalahgunaan Foto Pribadi oleh AI Makin Marak, Ini Risikonya!