BREAKING NEWS
Senin, 21 September 2026

Wamendiktisaintek Sebut AI Bisa Picu “Kematian Berpikir”: AI Makin Pintar, yang Menggunakan Tetap Bodoh

Johan - Sabtu, 19 September 2026 21:17 WIB
Wamendiktisaintek Sebut AI Bisa Picu “Kematian Berpikir”: AI Makin Pintar, yang Menggunakan Tetap Bodoh
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie. (foto: Satya Widya Yudha/fb)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

PURWOKERTO — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Stella, kemudahan yang ditawarkan AI dapat menjadi persoalan apabila manusia menyerahkan terlalu banyak proses berpikir kepada teknologi.

Ia menyebut kondisi tersebut dapat mengarah pada apa yang disebutnya sebagai "kematian berpikir".

Baca Juga:

Stella menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Nasional Sinergi Sains, Teknologi, dan Nilai Kebangsaan dalam Mencetak Generasi Unggul Berdaya Saing Global yang digelar STIE Satria Al Irsyad Al Islamiyah Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu (19/9/2026).

"Kalau kita ingin terus eksis dan bermakna di dalam pendidikan, kita harus menanyakan pertanyaan, apa peran manusia dalam penciptaan pengetahuan," kata Stella.

Stella mengatakan perkembangan AI memunculkan pertanyaan mengenai posisi manusia di tengah teknologi yang semakin mampu mengolah dan menghasilkan informasi.

Menurut dia, AI memang dapat memiliki daftar berbagai fakta yang tersedia di dunia.

Namun, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan fakta mana yang penting untuk diketahui.

"Kelebihan manusia adalah mampu mengkurasi mana yang menarik dan tidak. Pengetahuan adalah kurasi," ujar Stella.

Ia menegaskan pengetahuan bukan sekadar kumpulan fakta yang dapat diperoleh dengan cepat melalui teknologi.

"Pengetahuan itu kurasi. Pengetahuan itu bukan daftar segala sesuatu fakta. AI bisa punya daftar segala sesuatu fakta yang ada di dunia ini. Tetapi manusia, ilmuwan dari dulu itu adalah mengkurasi mana yang penting diketahui, mana yang tidak perlu diketahui, mana yang harus diketahui," kata Stella.

Stella mengatakan manusia tidak dapat mengabaikan perkembangan AI.

Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap harus diiringi kemampuan manusia untuk berpikir dan menentukan keputusan.

Menurut Stella, perkembangan AI harus diikuti dengan pertanyaan mengenai peran manusia, terutama dalam dunia pendidikan tinggi.

Salah satu persoalan yang perlu dipikirkan adalah siapa yang akan menciptakan pengetahuan pada masa depan ketika kemampuan AI terus berkembang.

Stella juga mempertanyakan posisi manusia apabila AI nantinya semakin mampu menghasilkan pengetahuan baru.

"Manusia sebagai apa, pengawas atau klien?" ujar Stella.

Pertanyaan tersebut, menurut Stella, berkaitan dengan kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan manusia yang mampu mengendalikan sekaligus menggunakan AI secara tepat.

Ia menilai pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi.

Kemampuan untuk memahami persoalan, memilih informasi dan menciptakan pengetahuan tetap menjadi bagian penting yang harus dimiliki manusia.

Stella mengatakan kekhawatiran mengenai "kematian berpikir" tidak hanya menjadi persoalan perguruan tinggi.

Keluarga, kata dia, juga memiliki peran dalam menjaga kemampuan berpikir anak. Salah satu caranya dengan membiasakan anak membaca buku, termasuk novel.

Anak juga didorong membaca buku secara utuh dari awal hingga akhir.

Kebiasaan tersebut dinilai dapat melatih kemampuan memahami persoalan dan mempertahankan proses berpikir secara menyeluruh.

Selain membaca, Stella menyarankan orang tua memberikan tugas yang tidak dapat begitu saja diselesaikan menggunakan AI.

Dengan begitu, anak tetap dituntut memahami persoalan dan menggunakan kemampuan intelektualnya sendiri, bukan sekadar meminta teknologi menghasilkan jawaban.

Stella mengaku terkesan dengan analogi seorang peserta seminar yang menyamakan AI dengan joki.

"AI seperti joki, betul. AI makin pintar, tapi yang menggunakan joki tetap bodoh," ujarnya.* (km/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
FOSS Group Luncurkan EV Truck 10 Ton, Truk Listrik 4WD dengan Jarak Tempuh hingga 250 Km!
Mau Liburan ke Thailand? Jangan Langgar 7 Aturan Ini agar Tak Didenda hingga Dipenjara
PKN Binjai dan Langkat Hadiri Pelantikan FKPPI Selesai, Perkuat Sinergi dan Kekompakan Pemuda Jaga NKRI
Warga Keluhkan Gang Cipto Rusak dan Banjir, Rico Waas Pastikan Pengaspalan Dikerjakan Tahun Ini
Rico Waas Minta Pelayanan Administrasi Tak Berbelit: Jika Masuk Pagi, Siang Harus Selesai!
Eks Kadisdik Langkat Sebut Diminta Penyidik Akui Terima Rp50 Juta, Kejari Langkat Bantah: Tidak Benar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru