PADANGSIDIMPUAN — Di era 1980-an, saat televisi masih menjadi barang mewah dan internet belum hadir di tengah masyarakat, bioskop menjadi satu-satunya hiburan utama bagi warga.
Bioskop Horas tidak hanya sekadar tempat menonton film, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya para remaja, keluarga, dan pasangan muda-mudi untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.
Tiket yang dibeli untuk satu pertunjukan memberi akses menonton dua film sekaligus, sebuah hal yang sangat dinantikan oleh para penonton kala itu.
Cerita Bang Lian: Dari Buruh Bioskop ke Kepala Keluarga
Salah seorang saksi hidup kejayaan Horas Theater adalah Bang Lian, warga Kota Padangsidimpuan yang pernah bekerja di bioskop tersebut sejak tamat SMP hingga menikah dan memiliki lima anak.
"Saya mulai kerja dari jadi buruh bioskop, bersih-bersih, bantu-bantu teknisi. Alhamdulillah, dari pekerjaan itu saya bisa menyekolahkan anak-anak sampai dua orang kuliah, tiga lainnya lulus SMA," kenang Bang Lian dengan mata berbinar.
Baginya, bioskop bukan hanya tempat kerja, tapi juga bagian dari perjalanan hidup. Ia menyayangkan bahwa kini bioskop legendaris itu sudah berubah fungsi.
"Sekarang, tempat itu sudah jadi Horas Bakery. Tidak ada lagi yang menyebut nama Bioskop Horas. Padahal dulu itu kebanggaan kota ini," tambahnya.