Pemerintah Belanda mencatat dan mengelompokkan pemukiman penduduk berdasarkan latar belakang etnis, seperti Kampung Jawa, Kampung Karo, Kampung Mandailing, Kampung Toba, dan Kampung Simalungun.
"Pemukiman-pemukiman berbasis etnik merupakan kebijakan yang diteruskan kantor ini," tulis Damanik.
Jejak sistem sensuskolonial tersebut menunjukkan bahwa Pematang Siantar telah berkembang sebagai kota administratif penting sejak awal abad ke-20.
Pendataan penduduk yang dilakukan secara sistematis menjadi fondasi tata kelola kota, jauh sebelum Indonesia merdeka dan membentuk lembaga statistik nasional seperti BPS.*