Ia mencontohkan sejumlah negara yang berhasil melestarikan aksara, seperti Jepang, Korea, China, dan Thailand, sebagai indikator peradaban yang kuat.
"Di periode kedua ini, saya akan genjot agar Aksara Bali menjadi gerakan bersama. Gunakan Aksara Bali, kalau bisa tanpa huruf latin, itu keren," ujarnya.
Dalam rangka memperluas implementasi, Koster memerintahkan agar semua produk lokal Bali wajib menggunakan Aksara Bali.
"Kalau tidak memakai Aksara Bali, tidak usah dipasarkan. Hotel pun saya datangi, kalau tidak menggunakan aksara saya tegur," tegasnya.
Bulan Bahasa Bali VIII mengusung tema "Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa" dan berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 1 hingga 28 Februari 2026.
Penyelenggaraannya dilakukan berjenjang, dari tingkat desa/kelurahan, lembaga pendidikan, hingga tingkat provinsi.
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk menanamkan kesadaran kolektif dalam pelindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali.
Kegiatan pembukaannya ditandai dengan penarikan selendang kepongpong kupu-kupu oleh Gubernur Koster, serta penorehan tulisan kaligrafi "Lestarikan Aksara Bahasa Sastra Bali" yang diproses langsung menjadi karya seni.
Bulan Bahasa Bali VIII diramaikan dengan festival penulisan Aksara Bali di berbagai media, 17 lomba wimbakara, delapan pementasan seni pertunjukan (sesolahan), tiga workshop kriyaloka, dua seminar widyatula, serta pameran Reka Aksara bertema "Transformasi Bahasa, Aksara dan Sastra Bali dalam Teknologi".
Selain itu, konservasi lontar, ruang belajar ramah anak, diskusi sastra, dan penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama turut diselenggarakan.
Koster menekankan pentingnya disiplin dan kesadaran kolektif dalam penggunaan Aksara Bali.
"Jangan malu menggunakan Aksara Bali. Justru harus bangga. Kita wajib menegur jika ada pelanggaran, agar budaya ini tetap hidup," ujarnya.
Sehari setelah pembukaan tingkat provinsi, seluruh kabupaten/kota se-Bali akan melaksanakan pembukaan Bulan Bahasa Bali di wilayah masing-masing.*