Arsitekturnya mengadopsi gaya Mughal yang sama dengan Taj Mahal di India, dengan kubah-kubah hitam kontras di atas bangunan berwarna kuning khas Melayu.
Sejarawan Tengku Luckman Sinar menekankan bahwa Masjid Azizi menjadi simbol kekuatan ekonomi dan keterbukaan Kesultanan Langkat terhadap kemajuan dunia luar. "Pembangunannya yang melibatkan material lintas benua membuktikan betapa terbukanya Langkat pada masa itu," ujarnya.
Fakta unik lain, Masjid Azizi disebut sebagai "kakak kandung" dari Masjid Zahir di Kedah, Malaysia, karena keduanya dirancang dengan inspirasi arsitektur yang sama.
Hal ini menjadikan Masjid Azizi sebagai rujukan penting dalam arsitektur Islam di wilayah Semenanjung Malaka awal abad ke-20.
Selain fungsi religius dan seni, kompleks masjid ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Tengku Amir Hamzah, Pahlawan Nasional sekaligus Bapak Bahasa Indonesia. Di sini, harmoni antara keindahan arsitektur, kejayaan politik masa lalu, dan pengabdian sastra bertemu dalam satu titik.
Masjid Azizi Langkat tetap menjadi saksi sejarah, simbol kejayaan kesultanan, dan destinasi budaya yang memikat bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah Melayu di Sumatera.*
(ds/dh)
Editor
: Dharma
Masjid Azizi Langkat: ‘Taj Mahal’ Tanah Melayu yang Menyatukan Seni dan Spiritual