Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII, Sabtu (28/2/2026), di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
"Karena merekalah yang akan menjadi pewaris," ujar Koster. Ia juga mengusulkan agar materi memadik (lamaran versi Bali) dipertimbangkan dalam rangkaian kegiatan BBB tahun depan.
Gubernur kelahiran Desa Sembiran ini memuji pelaksanaan BBB VIII yang berlangsung dari 1–28 Februari.
Salah satu momen yang disaksikannya adalah anak-anak SMA mengoperasikan keyboard aksara Bali, sebuah inovasi yang hanya dimiliki Bali.
Koster berharap keyboard aksara Bali bisa dibagikan ke seluruh lembaga pendidikan mulai SD hingga SMA/SMK agar penggunaan aksara Bali menjadi lebih paten.
"Kegiatan nyurat Aksara Bali diikuti anak-anak mulai SD hingga perguruan tinggi, menggunakan berbagai media seperti lontar dan tembaga. Ini wahana regenerasi kemampuan nyurat yang sangat penting," ungkapnya.
Namun, Koster juga menyinggung adanya desa/kelurahan dan sekolah yang tidak menyelenggarakan BBB. Dari 1.500 desa adat, 12 absen; 45 desa/kelurahan dan 3 SMA/SMK tidak ikut; sementara 16 SLB seluruhnya berpartisipasi.
Ia menegaskan akan berdialog dengan pihak yang absen untuk memastikan partisipasi penuh pada tahun berikutnya.
Gubernur Koster menegaskan komitmennya terhadap pelestarian bahasa dan aksara Bali, sebagaimana tertuang dalam Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018. Regulasi ini menjadi bagian dari Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.
Penutupan BBB VIII juga diisi dengan penyerahan penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama kategori perorangan kepada I Wayan Turun, dan kategori lembaga diterima oleh Kelompok Media Bali Post.
Selain itu, sertifikat Warisan Budaya Takbenda diserahkan kepada Pemprov dan Kabupaten/Kota se-Bali.
Sebagai simbol peluncuran tema BBB IX Tahun 2027, Wana Kerthi Gemuh Landuh Sarwa Tumuwuh, Koster melakukan penaburan benih secara simbolis yang diikuti visualisasi LED, menandai kesiapan Bali untuk memuliakan bahasa, aksara, dan budaya daerah lebih kreatif dan inovatif di tahun depan.*