Museum ini juga menampilkan foto tokoh pers dan pahlawan nasional, buku sejarah pers dan jurnalistik, alat jurnalistik seperti mesin ketik dan kamera, serta dokumen yang menunjukkan peran pers dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya di Sumatera Utara.
"Terdapat 547 koleksi sejarah milik almarhum TWH. Namun, keterbatasan ruang membuat tidak semua koleksi dapat dipamerkan. Sebagian masih disimpan karena kondisi museum yang sempit," ujar Mufti Mutawatir TWH, sekretaris museum sekaligus cucu almarhum, Jumat (6/3/2026).
Mufti berharap pemerintah dapat mendukung pendirian museum pers yang lebih representatif di Sumatera Utara agar seluruh koleksi dapat dirawat dan dinikmati generasi muda sebagai sarana edukasi sejarah pers.
Saat ini, Museum Perjuangan Pers menjadi media pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan dan peran pers dalam sejarah Indonesia.*
(ds/dh)
Editor
: Dharma
Menyusuri Jejak Pers Indonesia di Museum Perjuangan Pers Sumut