Dalam budayaBatak, kehidupan dipandang sebagai rangkaian tahapan yang saling terhubung, mulai dari kelahiran hingga kematian.
Seseorang yang ingin mencapai Saur Matua harus memenuhi tiga pilar utama dalam filosofi hidup Batak, yakni:
Hagabeon – Memiliki keturunan. Hamoraon – Kesejahteraan atau keberhasilan ekonomi. Hasangapon – Kehormatan atau status sosial yang tinggi.
"Hamoraon bagi orang Batak bukan hanya soal kekayaan materi, tetapi juga keberhasilan dalam pendidikan anak-anak. Misalnya, jika anak-anaknya bersekolah dengan baik, itu bagian dari pencapaian kesejahteraan," jelas Rytha.
Kehidupan seseorang dianggap utuh dan lengkap jika ia berhasil mencapai ketiga pilar ini.
Oleh karena itu, kematian yang terjadi setelah seseorang memenuhi semua syarat ini menjadi sebuah bentuk sukacita dan kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat.
Kematian yang Dihargai dengan Sukacita, Bukan Duka
Salah satu aspek unik dari Saur Matua adalah cara masyarakat Batak memandang emosi dalam kematian.
Meskipun keluarga yang ditinggalkan tetap merasakan kesedihan secara pribadi, menurut adat, yang ditampilkan adalah sukacita.
"Saya pribadi mungkin menangis saat orang tua saya meninggal. Tapi, di budayaBatak, kami harus merayakan dengan suka cita. Kematian bukan sekadar duka, melainkan simbol pencapaian dan keberhasilan hidup," kata Rytha.
Kematian yang dipandang sebagai perayaan kehidupan ini bukan berarti mengabaikan rasa kehilangan, tetapi menempatkan kematian dalam konteks penghormatan terhadap orang yang telah menyelesaikan seluruh siklus hidup dengan baik.
Ritual Saur Matua: Upacara Besar yang Melibatkan Semua Struktur Sosial