BREAKING NEWS
Minggu, 09 Agustus 2026

Kerusuhan Mei 1998: Dari Tragedi Trisakti hingga Runtuhnya Kekuasaan Soeharto

Johan - Rabu, 13 Mei 2026 21:00 WIB
Kerusuhan Mei 1998: Dari Tragedi Trisakti hingga Runtuhnya Kekuasaan Soeharto
Kerusuhan Mei 1998. (foto: AFP)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Kerusuhan Mei 1998 tercatat sebagai salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah politik Indonesia modern.

Peristiwa yang berlangsung sekitar 10 hari itu dipicu oleh penembakan terhadap mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 dan berujung pada lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Peristiwa bermula pada 12 Mei 1998 ketika aparat keamanan menembak mati mahasiswa Universitas Trisakti yang tengah menggelar aksi damai.

Baca Juga:

Enam mahasiswa dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Alan Mulyadi, Hendriawan Sie, dan Vero.

Peristiwa itu memicu gelombang kemarahan publik dan aksi demonstrasi di berbagai titik di Jakarta.

Sehari setelahnya, pada 13 Mei 1998, kerusuhan meluas di sekitar kawasan Universitas Trisakti dan semakin tidak terkendali. Situasi keamanan di Ibu Kota kian memburuk.

Pada 14 Mei 1998, kerusuhan mulai menyebar ke sejumlah kota besar di Indonesia. Aksi massa disertai pembakaran dan penjarahan dilaporkan terjadi di berbagai lokasi.

Memasuki 15 Mei 1998, kerusuhan meluas hingga ke pusat-pusat perbelanjaan.

Salah satu lokasi yang terdampak adalah pusat perbelanjaan di kawasan Klender, Jakarta Timur, di mana dilaporkan banyak korban jiwa dalam insiden kebakaran dan kepanikan massa.

Sehari kemudian, 16 Mei 1998, kerusuhan masih berlanjut. Peristiwa serupa kembali terjadi di sejumlah titik, termasuk Cileduk Plaza yang juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa.

Pada 17 Mei 1998, situasi semakin tidak terkendali. Berdasarkan laporan yang beredar saat itu, ratusan orang dilaporkan meninggal dunia dan ribuan bangunan terbakar di berbagai wilayah Jakarta.

Gelombang demonstrasi kemudian berlanjut ke ranah politik pada 18 Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa menduduki Kompleks Parlemen Senayan.

Ketua MPR saat itu, Harmoko, menyerukan agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.

Pada 19 Mei 1998, Soeharto menyatakan akan menggelar pemilu lebih cepat serta tidak mencalonkan diri kembali.

Ia juga menyampaikan rencana pembentukan komite reformasi sebagai respons atas tekanan politik yang meningkat.

Pada 20 Mei 1998, beredar rencana aksi long march mahasiswa, namun aksi tersebut tidak terlaksana. Situasi politik tetap berada dalam ketegangan tinggi.

Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto secara resmi mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden BJ Habibie.

Peristiwa ini menandai berakhirnya 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

Kerugian material akibat kerusuhan selama dua hari (13–14 Mei 1998) di Jakarta diperkirakan mencapai sekitar Rp 2,5 triliun.

Kerusuhan Mei 1998 hingga kini tercatat sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia, yang tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar, tetapi juga menjadi titik balik perubahan politik nasional menuju era reformasi.*


(km/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dugaan Politik Dinasti dan Alokasi APBD Tak Tepat Sasaran di Kaltim, Prabowo Didesak Turun Tangan
Mahfud MD Ungkap Isi Pembicaraan saat Tak Sengaja Bertemu Jokowi
Jokowi Dikabarkan Pulih 99 Persen, Siap Keliling Indonesia Lagi Mulai Juni 2026
BI dan Bank Negara Malaysia Perkuat Kerja Sama, Fokus Jaga Stabilitas Keuangan di Tengah Geopolitik Global
Menyusuri Jejak Tjong Yong Hian, Tokoh Tionghoa yang Berperan Besar dalam Lahirnya Kota Medan
20 Orang Tewas dalam Sebulan di Papua, Pigai Desak Solusi Politik Nasional
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru