BREAKING NEWS
Minggu, 28 Juni 2026

Sejarah Suku Melayu Deli di Medan, Berakar dari Kesultanan Deli dan Perkembangan Budaya Pesisir

Adelia Syafitri - Minggu, 28 Juni 2026 08:41 WIB
Sejarah Suku Melayu Deli di Medan, Berakar dari Kesultanan Deli dan Perkembangan Budaya Pesisir
Penobatan Sultan Deli, Amaloeddin Sani Perkasa Alam Shah II, di istananya di Medan, 1925. (foto: Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia/Wordpress)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Etnis Melayu dikenal sebagai salah satu kelompok masyarakat yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kota Medan.

Kehadirannya merupakan bagian dari proses panjang migrasi penduduk, perkembangan kerajaan-kerajaan Melayu, hingga tumbuhnya pusat perdagangan di pesisir timur Pulau Sumatera.

Sejarawan sekaligus akademisi Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari, menjelaskan bahwa masyarakat Melayu berasal dari rumpun penutur bahasa Austronesia yang sejak lama berkembang di wilayah Sumatera.

Baca Juga:

"Secara asal-usul, etnis Melayu termasuk dalam rumpun penutur bahasa Austronesia yang tersebar luas di Pulau Sumatera, terutama dari wilayah Jambi dan Sumatera Selatan. Dari daerah asal tersebut, komunitas Melayu kemudian meluas ke berbagai kawasan lain, termasuk ke pesisir timur Sumatera Utara yang kini menjadi bagian dari Medan dan wilayah sekitarnya," ujar Ichwan Azhari.

Menurutnya, perkembangan masyarakat Melayu di Medan tidak dapat dipisahkan dari berdirinya Kesultanan Deli pada abad ke-17.

Kesultanan yang diperkirakan berdiri sekitar tahun 1632 itu kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan Melayu di Sumatera Utara.

"Dari masa inilah muncul kelompok yang dikenal sebagai Melayu Deli, yang hingga kini menjadi salah satu identitas budaya khas di Medan," ujarnya.

Berkembang di Pesisir dan Sepanjang Sungai

Pada masa awal, masyarakat Melayu Deli banyak menetap di kawasan pesisir timur Sumatera Utara serta di sepanjang aliran Sungai Deli dan Sungai Babura.

Letaknya yang strategis di dekat Selat Malaka menjadikan kawasan tersebut berkembang sebagai jalur perdagangan penting.

Ketika pemerintah kolonial Belanda membuka perkebunan tembakau dalam skala besar pada abad ke-19, Kota Medan berkembang menjadi pusat ekonomi yang dihuni berbagai kelompok etnis.

Dalam perkembangan tersebut, masyarakat Melayu tetap menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan sosial dan budaya kota.

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pesona Bukit Siadtaratas, Spot Terbaik Menikmati Keindahan Danau Toba dari Ketinggian
Prakiraan Cuaca Sumut Hari Ini, Minggu 28 Juni 2026: Sebagian Besar Wilayah Hujan Ringan
Pemprov Sumut Kerahkan Personel Gabungan Berantas Pungli di Sidebuk-Debuk, Wisatawan Kini Dijaga 24 Jam
Sekdaprov Sumut: Pers Jadi Mitra Strategis Pemerintah dalam Mendukung Pembangunan Daerah
Bobby Nasution Apresiasi Komitmen FWP Sumut, Nilai Pers Jadi Mitra Strategis Pembangunan
Video Viral Satu Kompi TNI Disebut Angkut 16 Sapi di Labuhanbatu, Pemilik Lahan Buka Suara
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru