BREAKING NEWS
Minggu, 28 Juni 2026

Fenomena Kumpul Kebo Makin Dianggap Wajar, Peneliti BRIN Ungkap Dampaknya bagi Perempuan dan Anak

Nurul - Minggu, 28 Juni 2026 11:13 WIB
Fenomena Kumpul Kebo Makin Dianggap Wajar, Peneliti BRIN Ungkap Dampaknya bagi Perempuan dan Anak
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Fenomena kumpul kebo atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahan semakin banyak menjadi pilihan sebagian anak muda.

Pergeseran cara pandang terhadap hubungan dan pernikahan membuat sebagian pasangan menganggap hidup bersama merupakan bentuk cinta yang lebih sederhana tanpa harus melalui proses pernikahan yang dianggap rumit.

Kumpul kebo merupakan istilah untuk pasangan yang bukan suami istri tetapi memutuskan tinggal bersama dalam satu rumah.

Baca Juga:

Fenomena ini dilaporkan semakin mendapat perhatian karena terjadi perubahan pandangan masyarakat mengenai relasi dan kehidupan berkeluarga.

Di banyak negara Asia yang masih menjunjung tinggi budaya, adat, dan nilai agama, praktik kumpul kebo masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu.

Jika pun terjadi, hubungan tersebut umumnya hanya berlangsung sementara sebelum pasangan melangsungkan pernikahan.

Di Indonesia, penelitian berjudul The Untold Story of Cohabitation pada 2021 menunjukkan praktik kohabitasi lebih banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur yang mayoritas penduduknya non-Muslim.

Peneliti Ahli Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yulinda Nurul Aini, mengungkapkan hasil penelitiannya di Kota Manado menemukan sedikitnya tiga alasan utama pasangan memilih hidup bersama tanpa menikah.

Ketiga alasan tersebut adalah beban ekonomi, rumitnya proses perceraian bagi pasangan yang pernah menikah, serta adanya penerimaan sosial di lingkungan sekitar.

"Hasil analisis saya terhadap data dari Pendataan Keluarga 2021 (PK21) milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sebanyak 0,6 persen penduduk Kota Manado melakukan kohabitasi," ujar Yulinda.

Ia menjelaskan, dari total pasangan yang menjalani kohabitasi tersebut, sekitar 1,9 persen sedang hamil saat survei dilakukan.

Selain itu, sebanyak 24,3 persen berusia di bawah 30 tahun, 83,7 persen memiliki tingkat pendidikan SMA atau lebih rendah, 11,6 persen tidak bekerja, dan 53,5 persen bekerja di sektor informal.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ini Daftar Pasal yang Jerat Taufik Hidayat dalam Kasus Penyekapan YTR
Ekspor Sawit Indonesia ke Uni Eropa Tembus US$1,51 Miliar, EUDR Jadi Tantangan Baru
Google Finance Era Baru: AI Bantu Investor Analisis Saham, Kripto, hingga Portofolio
Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Oper Sana, Oper Sini
MBG, Bukti Keberpihakan Presiden Prabowo yang Sampai ke Piring Rakyat Kecil
Video Viral Satu Kompi TNI Disebut Angkut 16 Sapi di Labuhanbatu, Pemilik Lahan Buka Suara
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru