BREAKING NEWS
Jumat, 25 September 2026

Di Tengah Gempuran AI, DPR dan PFI Medan Tegaskan Fotografi Jadi Benteng Otentisitas Budaya

Dodi Kurniawan - Rabu, 23 September 2026 22:06 WIB
Di Tengah Gempuran AI, DPR dan PFI Medan Tegaskan Fotografi Jadi Benteng Otentisitas Budaya
Anggota DPR RI Sofian Tan saat membuka diskusi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Medan bersama Kementerian Kebudayaan RI dan DPR RI di Aula PFI Medan, Jalan Setia Budi, Medan, Rabu (22/9/2026). (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa tantangan baru bagi pelaku seni, akademisi hingga fotografer dalam menjaga otentisitas kebudayaan Indonesia. Fotografi dinilai tetap memiliki peran penting sebagai arsip visual untuk merekam keberagaman budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Sofian Tan saat membuka diskusi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Medan bersama Kementerian Kebudayaan RI dan DPR RI di Aula PFI Medan, Jalan Setia Budi, Medan, Rabu (22/9/2026).


Baca Juga:

Diskusi tersebut mengangkat tema "Dalam Satu Bingkai Kebhinekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia". Kegiatan dihadiri Sofian Tan, fotografer senior Irsan Mulyadi, Ketua PFI Medan Rizky Cahyadi, anggota PFI Medan serta mahasiswa.

Sofian Tan mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Keberagaman tersebut tercermin dari banyaknya suku dan bahasa yang hidup di berbagai wilayah Indonesia.


"Karena dari jumlah suku yang ada, hari ini diperkirakan hasil BPS sekitar 1.340, tetapi oleh Balai Bahasa, jumlah bahasa kita, bahasa nenek kita, sudah mencapai 729," ujar Sofian Tan.

Menurut Sofian, keberagaman suku dan bahasa tersebut kemudian melahirkan perbedaan budaya hingga kuliner. Karena itu, fotografi memiliki peran sebagai arsip visual yang mendokumentasikan berbagai bentuk kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

"Fotografi itu sebagai arsip visual kebudayaan, arsip visual kebudayaan yang bisa merekam selain adat istiadat, selain baju-baju yang mereka kenakan, termasuklah berbagai aktivitas kehidupan itu," katanya.

Sementara itu, fotografer senior Irsan Mulyadi mengatakan perkembangan AI sebenarnya bukan fenomena yang baru. Menurutnya, teknologi tersebut telah dikenal sejak 1956 melalui Konferensi Dartmouth.

"Artificial Intelligence itu sudah ditemukan di tahun 1956 di Konferensi Dartmouth," ungkap Irsan.

Irsan menjelaskan masyarakat saat ini dapat dilihat dalam dua kelompok, yakni digital native dan digital immigrant. Digital native merupakan mereka yang tumbuh bersama perkembangan teknologi, sedangkan digital immigrant merupakan kelompok yang harus beradaptasi dengan teknologi.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Soal Gugatan Ijazah Gibran di MK, Rocky Gerung Minta DPR Siap-siap: Bakal Skandal Besar
Art Fair Cima’Art Makin Semarak, Guru Besar Lemhannas Indira Santi: Seni Adalah Bahasa Universal Pemersatu Perbedaan
Calon Arang Menggugat Hadir di UNJ, Maestro Elly Luthan Perankan Tokoh Calon Arang
Cabai Rawit Nyaris Tembus Rp100 Ribu, Ini Daftar Lengkap Harga Pangan Hari Ini dari Beras sampai Daging Sapi
IHSG Dibuka Melemah dan Sempat Anjlok Dalam di Sesi Pagi, Bayang-bayang Konflik AS-Iran Tekan Pasar Domestik
Sempat Dibuka Menguat ke Level Rp17.605, Pergerakan Rupiah Hari Ini Diproyeksi Kembali Tertekan Sentimen Global
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru