Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN – Ulos dikenal sebagai kain tradisional masyarakat Batak yang kerap digunakan dalam berbagai upacara adat.
Namun, kain ini tidak sekadar berfungsi sebagai pakaian atau pelengkap busana.
Ulos juga menyimpan makna tentang doa, kasih sayang, hubungan kekerabatan, penghormatan, dan identitas budaya Batak.
Baca Juga:
Budayawan Batak Thompson Hs menjelaskan, ulos pada awalnya memiliki fungsi praktis sebagai penghangat tubuh.
Fungsi tersebut berkaitan dengan kondisi cuaca dingin di wilayah tempat leluhur masyarakat Batak tinggal.
Seiring perkembangan zaman, ulos kemudian memiliki makna yang lebih luas dalam kehidupan sosial dan adat.
"Ulos pada awalnya dimaknai sebagai penghangat, baik karena cuaca dingin maupun untuk hubungan kekerabatan," jelas Thompson.
Menurut Thompson, ulos juga berkembang menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika.
Motif dan bentuknya kini diadaptasi oleh para desainer untuk memenuhi kebutuhan industri kreatif dan komersial.
Meski demikian, makna ulos dalam tradisi Batak tidak dapat dilepaskan dari konteks adat dan hubungan antara orang yang memberikan dengan pihak yang menerimanya.
Dalam tradisi Batak Toba, pemberian ulos dapat dimulai bahkan sebelum seorang anak dilahirkan.
Salah satu contohnya adalah tradisi mangirdak atau mambosuri, yakni kebiasaan adat yang dilakukan ketika usia kehamilan ibu memasuki sekitar tujuh bulan.
Dalam tradisi tersebut, ibu yang mengandung menerima ulos tertentu dan makanan sebagai bentuk perhatian keluarga.
Pemberian itu juga mengandung doa dan harapan agar ibu serta anak yang dikandungnya mendapat keselamatan hingga persalinan.
Setelah anak lahir, pemberian ulos kembali dilakukan sesuai dengan makna dan tujuan adatnya.
Dua jenis ulos yang dikenal dalam konteks tersebut adalah Ulos Bintang Maratur dan Ulos Mangiring.
Ulos Bintang Maratur berkaitan dengan harapan agar kehidupan anak berjalan teratur.
Sementara itu, Ulos Mangiring mengandung harapan agar keluarga kembali dikaruniai keturunan, termasuk hadirnya adik yang menyusul.
Dengan demikian, pemberian ulos bukan sekadar menyerahkan kain.
Di dalamnya terdapat doa, harapan, serta perhatian keluarga terhadap perjalanan hidup penerimanya.
Makna ulos juga terlihat dalam berbagai tahapan kehidupan masyarakat Batak, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga upacara kematian.
Dalam upacara adat, jenis dan jumlah ulos yang diberikan mengikuti ketentuan adat serta kesepakatan keluarga.
Pada tradisi Batak Toba, pihak parboru, hula-hula, atau tulang memiliki peran penting dalam pemberian ulos pada upacara tertentu.
Ulos yang digunakan dalam ritual adat juga dapat berfungsi sebagai pakaian formal tradisional.
Pemberiannya berkaitan dengan hubungan kekerabatan, kedudukan pihak-pihak yang terlibat, serta bentuk penghormatan dalam pelaksanaan adat.
Karena itu, pemahaman terhadap ulos tidak cukup hanya dengan mengenali warna atau motifnya.
Cara penggunaan, siapa yang memberikan, siapa yang menerima, serta upacara yang menyertainya turut menentukan makna ulos dalam kehidupan masyarakat Batak.
Keragaman jenis dan motif menjadi salah satu ciri khas ulos.
Penelitian berjudul Ciri Khas Suku Batak: Ulos Batak yang diterbitkan dalam Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar pada 2026 menjelaskan bahwa ulos memiliki nilai simbolik yang berkaitan dengan kehormatan, status sosial, kehangatan keluarga, dan identitas masyarakat Batak.
Proses pembuatan ulos juga membutuhkan keterampilan menenun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain digunakan dalam upacara adat, ulos dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai selendang, sarung, selimut, hingga hiasan rumah.
Keragaman fungsi tersebut memperlihatkan bahwa ulos bukan hanya bagian dari tradisi seremonial.
Kain ini juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan cara mereka mempertahankan identitas budayanya.
Perkembangan industri turut mengubah cara ulos diproduksi dan digunakan.
Thompson menjelaskan, ulos buatan mesin memiliki keunggulan dari sisi harga dan kecepatan produksi.
Produk tersebut juga banyak digunakan untuk pertunjukan seni dan cendera mata.
Sementara itu, ulos yang ditenun langsung oleh tangan partonun atau penenun memiliki nilai tersendiri.
Proses pembuatannya berkaitan dengan keterampilan, ketekunan, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Perubahan nilai ulos di tengah kehidupan modern juga dibahas dalam penelitian berjudul Identifikasi Faktor Pergeseran Nilai Ulos sebagai Warisan Budaya Batak Modern yang diterbitkan dalam Engineering and Technology International Journal pada November 2025.
Penelitian tersebut mencatat teknologi sebagai faktor dengan persentase pengaruh terbesar terhadap pergeseran nilai ulos, yakni 41 persen.
Faktor nilai ekonomis tercatat 23,3 persen, edukasi 22,9 persen, dan budaya 12,7 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan pertimbangan ekonomi ikut memengaruhi cara ulos diproduksi serta dipahami oleh masyarakat modern.
Thompson menilai perkembangan fungsi ulos sebagai ornamen, produk mode, dan bagian dari industri kreatif tidak dapat dilepaskan dari perubahan zaman.
Namun, pemahaman terhadap makna tradisionalnya tetap penting agar ulos tidak hanya dipandang berdasarkan penampilan atau nilai jual.
Ulos memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Batak.
Berawal dari kebutuhan untuk menghangatkan tubuh, kain ini kemudian berkembang menjadi simbol doa, kasih sayang, kekerabatan, penghormatan, dan identitas budaya.
Di tengah perkembangan industri dan perubahan gaya hidup, pelestarian ulos tidak hanya berarti mempertahankan bentuk kain dan motifnya.
Pengetahuan mengenai makna, proses pembuatan, serta tata cara penggunaannya dalam adat juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya Batak.* (d/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.