Pada tanggal 19 Ramadhan 40 H, Ali bin Abi Thalib menjadi korban pembunuhan oleh seorang anggota Khawarij, Abdurrahman bin Muljam, yang menghantam kepala Ali dengan pedang beracun saat ia sedang melaksanakan salat Subuh di Masjid Agung Kuffah.
Meskipun terluka, Ali tetap bertahan hingga dua hari kemudian, pada 21 Ramadhan 40 H, ia menghembuskan nafas terakhir.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, namun juga meninggalkan warisan teladan yang akan dikenang sepanjang masa.
Ali bin Abi Thalib bukan hanya dikenal sebagai seorang pejuang dan pemimpin, tetapi juga sebagai seorang suami dan ayah yang penuh kasih sayang.
Keteladanannya dalam kepemimpinan, keadilan, kesederhanaan, dan kecintaannya terhadap Islam masih menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam hingga hari ini.
Semoga kita semua dapat meneladani sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib dalam kehidupan sehari-hari.
Kehidupannya mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga integritas, kepedulian terhadap sesama, serta keteguhan dalam berjuang di jalan Allah.