BREAKING NEWS
Rabu, 01 April 2026

Pengamat Feng Shui: Tradisi Imlek Suku Tionghoa yang Hampir Punah

BITVonline.com - Selasa, 28 Januari 2025 03:53 WIB
Pengamat Feng Shui: Tradisi Imlek Suku Tionghoa yang Hampir Punah
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN –Tradisi Imlek yang telah berlangsung turun-temurun di kalangan masyarakat Tionghoa kini mulai mengalami perubahan, bahkan beberapa di antaranya hampir punah. Hal ini diungkapkan oleh Sujud Kusala atau yang lebih dikenal dengan Jud Ang, seorang pengamat Feng Shui di Medan, yang menyebutkan ada lima tradisi Imlek yang mulai ditinggalkan, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut Sujud, salah satu tradisi yang hampir punah adalah tradisi mengantar dewa dapur ke langit. Pada akhir bulan terakhir tahun Imlek, keluarga Tionghoa biasa melakukan sembahyang di altar dewa dapur dengan menyalakan dupa, lilin, serta menyediakan buah dan bunga untuk menghormati dewa dapur yang dianggap sebagai pemberi rezeki. “Tradisi ini sudah mulai berkurang karena generasi muda kurang mengenal atau mempraktikkannya,” ujar Sujud kepada IDN Times.

Sujud juga menambahkan bahwa tradisi ini seharusnya menjadi momen untuk setiap anak memohon maaf atas kesalahan dan menghormati orang tua. Namun, menurutnya, masih banyak yang mengabaikan tradisi ini. “Ini adalah bentuk berbakti serta memohon doa restu untuk kesejahteraan dan keberhasilan,” tambahnya.

Selain itu, ada pula tradisi mengenakan pakaian berwarna kuning untuk pria dan merah untuk wanita pada hari pertama Imlek. Pakaian ini memiliki simbolisme sebagai lambang kebesaran Tiongkok, di mana warna kuning melambangkan jubah naga untuk Kaisar dan merah untuk jubah phoenix yang dikenakan permaisuri. Namun, di era modern, banyak orang yang lebih fleksibel dalam memilih pakaian dan tidak lagi mengikuti aturan tersebut secara ketat.

Tradisi lainnya yang semakin berkurang adalah kebiasaan membagikan dan menempelkan kaligrafi keberuntungan atau chun lian pada pintu rumah menjelang Imlek. Tradisi ini yang dulu dilakukan dengan menulis syair keberuntungan di kertas merah menggunakan kuas dan dibagikan kepada tetangga, kini sudah mulai jarang terlihat.

Terakhir, tradisi menjemput dewa rejeki atau Cai Shen Ye yang biasanya dilakukan pada tengah malam keempat Imlek, juga mulai berkurang. Sujud mengungkapkan bahwa banyak orang yang tidak kuat atau enggan bergadang untuk menjalani tradisi ini.

Sujud mengakui bahwa meskipun tradisi-tradisi tersebut mulai berkurang, hal itu bisa dimaklumi seiring dengan perkembangan zaman. Namun, ia berharap agar nilai-nilai luhur seperti menghormati orang tua dan menjaga tradisi yang bermakna tetap dilestarikan. “Alangkah bijak jika kita tetap menghormati orang tua, karena merekalah yang memiliki peran besar dalam hidup kita,” tutup Sujud.(IDN TMS SMT)

(N/014)

0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru