BREAKING NEWS
Senin, 10 Agustus 2026

Sosok Ben Mboi, Mentor Prabowo yang Dikenang karena Cinta Rakyat dan Akal Sehat

Abyadi Siregar - Sabtu, 08 Agustus 2026 16:32 WIB
Sosok Ben Mboi, Mentor Prabowo yang Dikenang karena Cinta Rakyat dan Akal Sehat
Aloysius Benedictus Mboi atau Ben Mboi. (foto: Tempo/Dian Triyuli Handoko)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nama Aloysius Benedictus Mboi atau Ben Mboi kembali disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu sosok yang memberi pelajaran penting tentang kepemimpinan dan cara bernegara.

Ben Mboi merupakan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjabat selama dua periode, 1978-1988.

Prabowo menyebut Ben Mboi sebagai salah satu mentor yang memberikan pengaruh dalam perjalanan dirinya memahami kepemimpinan.

Baca Juga:

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peluncuran buku bertajuk 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.

Prabowo mengatakan ada dua hal penting yang ia pelajari dari Ben Mboi, yakni pentingnya mencintai rakyat dan menggunakan akal sehat ketika mengambil keputusan sebagai pemimpin.

"Jadi kebijakan itu akal sehat. Kebijakan hilirisasi, kebijakan swasembada, semua itu akal sehat. Manakala keputusan yang kita ambil adalah didasari oleh cinta kepada rakyat dan akal sehat, kita tidak akan peleset," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, kebijakan yang dibuat berdasarkan kepentingan rakyat dan pertimbangan yang masuk akal akan memberikan hasil yang dapat dirasakan masyarakat.

"Hasilnya akan cepat kelihatan. Swasembada pangan sangat akal sehat. Swasembada pangan itu sebetulnya sangat-sangat mendasar. Mereka yang tidak paham swasembada pangan, negaranya tidak aman," tutur dia.

Ben Mboi, Anak Bangsawan yang Ditempa Disiplin

Aloysius Benedictus Mboi lahir di Ruteng, Manggarai, NTT, pada 22 Mei 1935. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Mathias Mboi dan Yohanna.

Ben Mboi berasal dari keluarga bangsawan Todo Pongkor di Manggarai.

Namun latar belakang keluarganya tidak membuat masa kecilnya berjalan tanpa perjuangan.

Sejak kecil, Ben Mboi dikenal menjalani kehidupan dengan disiplin dan semangat kerja keras.

Selain bersekolah, ia juga pernah menjual makanan dari rumah ke rumah.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kemudian membentuk karakter Ben Mboi sebagai sosok yang dikenal memiliki ketekunan dan semangat pengabdian.

Dokter yang Turun ke Medan Perang

Ben Mboi menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1961.

Setelah itu, ia bergabung dengan lingkungan militer sebagai dokter militer.

Pada 1962, Ben Mboi dikirim ke Irian Barat dalam operasi Trikora di bawah komando Benny Moerdani.

Kinerjanya dalam tugas tersebut membuat pangkatnya naik dari Letnan Satu menjadi Kapten.

Ia juga tercatat sebagai satu-satunya dokter dalam operasi Trikora tersebut.

Setelah menjalankan tugas di Irian Barat, Ben Mboi kemudian ditempatkan di bagian operasi Rumah Sakit Militer di Jakarta.

Pada 1964, setelah menikah dengan dokter Nafsiah Mboi, ia bersama istrinya ditugaskan ke Ende, Flores, untuk melanjutkan pengabdian sebagai dokter.

Memimpin NTT dengan Program Pembangunan

Karier Ben Mboi kemudian berlanjut ke pemerintahan. Ia dipercaya menjadi Gubernur NTT selama periode 1978-1988.

Selama memimpin NTT, pemerintah provinsi mencatat sejumlah program unggulan yang dijalankan Ben Mboi.

Di antaranya Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, Operasi Nusa Sehat, dan Operasi Benah Desa.

Salah satu fokusnya adalah meningkatkan produksi pangan melalui diversifikasi dan intensifikasi pertanian.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan gizi masyarakat NTT.

Ben Mboi juga mendorong penggunaan varietas tanaman dan teknologi pertanian yang sesuai dengan kondisi daerah.

Pemerintah daerah saat itu memobilisasi aparat untuk mendukung pengembangan sektor pertanian.

Perluasan lahan pertanian dengan teknologi modern juga dilakukan.

Berdasarkan catatan yang dikutip dalam bahan tersebut, luas lahan pertanian berkembang dari sekitar 5.000 hektare pada 1978 menjadi 15.000 hektare pada 1985.

Pembangunan infrastruktur juga menjadi perhatian.

Pemerintah NTT pada masa kepemimpinan Ben Mboi memperbaiki dan memperpanjang jalan serta membangun pelabuhan di sejumlah wilayah utama.

Program peningkatan pendapatan keluarga turut dikembangkan melalui penguatan komoditas pertanian seperti kakao, kopi, dan vanila yang diarahkan untuk pasar ekspor.

Operasi Benah Desa dan Industri di NTT

Ben Mboi juga menjalankan Operasi Benah Desa.

Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki administrasi pemerintahan di tingkat desa sekaligus memperkuat kelembagaan lokal.

Program itu antara lain membantu memperjelas informasi mengenai prosedur pengelolaan dan alokasi lahan pertanian.

Benah Desa kemudian disebut sebagai salah satu inovasi pemerintahan daerah yang mendapat perhatian lebih luas.

Pada masa kepemimpinan Ben Mboi, NTT juga mulai memiliki industri besar melalui hadirnya PT Semen Kupang.

Atas berbagai pengabdiannya, Ben Mboi bersama istrinya, dokter Nafsiah Mboi, menerima The Ramon Magsaysay Award for Government Service pada 1986.

Dianugerahi Bintang Republik Indonesia Utama

Pengabdian Ben Mboi kembali mendapat penghargaan dari negara pada 2025.

Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Utama kepada almarhum Ben Mboi.

Penghargaan tersebut diterima oleh ahli waris Ben Mboi di Istana Negara, Jakarta, pada 25 Agustus 2025.

Penghargaan itu diberikan atas berbagai jasa Ben Mboi, termasuk dalam pemberantasan malaria, penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan industri dasar di NTT.

Ben Mboi meninggal pada 23 Juni 2015.

Meski telah wafat, jejak pengabdiannya tetap dikenang, terutama melalui berbagai program pembangunan dan pelayanan sosial yang pernah dijalankannya.

Bagi Prabowo, warisan kepemimpinan Ben Mboi bukan hanya tentang program pembangunan.

Nilai yang lebih penting adalah bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan dengan mencintai rakyat dan menggunakan akal sehat.

Prinsip tersebut menjadi salah satu pelajaran yang terus dikenang dari sosok Ben Mboi.* (km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
BI dan BRIN Kaji Potensi Danau Toba Jadi Kawasan Ekonomi Khusus
Kebakaran Lahan di Simalungun Hanguskan Satu Hektare, Api Kini Padam
Renovasi Gedung Kantor Imigrasi Asahan Dimulai, Bupati: Percepat Pelayanan Masyarakat
Pimpin Rakorpem, Bupati Asahan Minta OPD Perkuat Pelayanan dan Matangkan Program 2027
Ketua OSIS SMA Panti Budaya Kisaran Lolos Pelatihan Kepemimpinan Nasional, Ini Pesan Bupati Asahan
Bupati Batu Bara Terima Audiensi Pengurus PBVSI Periode 2026–2030, Dorong Pembinaan Atlet Muda
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru