BREAKING NEWS
Jumat, 25 September 2026

Mohammad Noer, Mentor Prabowo yang Dikenal sebagai “Gubernurnya Rakyat Kecil”

Administrator - Sabtu, 08 Agustus 2026 19:01 WIB
Mohammad Noer, Mentor Prabowo yang Dikenal sebagai “Gubernurnya Rakyat Kecil”
Mohammad Noer, mantan Gubernur Jawa Timur periode 1967-1976. (foto: Dok. Wikipedia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nama Mohammad Noer, mantan Gubernur Jawa Timur periode 1967-1976, kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan sosok tersebut sebagai salah satu mentor dalam belajar menjadi pemimpin.

Prabowo menceritakan pengalamannya mendapat wejangan dari Mohammad Noer, yang akrab disapa Cak Noer, beberapa bulan sebelum tokoh asal Madura itu meninggal dunia pada 16 April 2010.

Cerita tersebut disampaikan Prabowo saat peluncuran buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.

Baca Juga:

"Beliau cerita sama saya, 'Prabowo, tugas pemimpin itu sebetulnya sederhana, bekerja yen wong cilik iso ngguyu'. Pemimpin bekerja agar orang yang paling lemah, orang yang kecil, orang yang paling miskin bisa senyum, bisa ketawa," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, pesan tersebut mengandung makna bahwa seorang pemimpin harus bekerja untuk memberikan harapan kepada masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi paling lemah.

"Artinya kalau orang yang sangat lemah, sangat tidak berdaya bisa senyum dan ketawa, dia mulai punya harapan. Kita bekerja memberi harapan kepada rakyat kita yang paling tidak berdaya," kata Prabowo.

Memulai Karier dari Bawah

Mohammad Noer memiliki nama lengkap Raden Panji Mohammad Noer. Ia lahir di Sampang, Madura, pada 13 Januari 1918.

Ia merupakan anak ketujuh dari 12 bersaudara pasangan Raden Aria Condropratikto dan Raden Ayu Siti Nursiah.

Cak Noer berasal dari keluarga keturunan bangsawan Madura. Namun, perjalanan kariernya dimulai dari bawah.

Ia mengawali karier sebagai pegawai magang di Kantor Kabupaten Sumenep pada 1939.

Kariernya kemudian berkembang hingga menduduki sejumlah posisi pemerintahan, mulai dari Asisten Wedana, Patih atau Wakil Bupati Bangkalan, Bupati Bangkalan, hingga Pembantu Gubernur Jawa Timur untuk wilayah Madura.

Pada 1967, Mohammad Noer ditunjuk menjadi Gubernur Jawa Timur. Ia memimpin provinsi tersebut selama hampir satu dekade, hingga 1976.

Dikenal Dekat dengan Rakyat Kecil

Selama menjadi gubernur, Cak Noer dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat, terutama rakyat kecil.

Ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di desa dibandingkan berada di kantor.

Saat menjabat Gubernur Jawa Timur, ia disebut menggunakan sekitar 20 hari kerja untuk mengunjungi desa-desa miskin di Jawa Timur.

Sementara 10 hari lainnya digunakan untuk bekerja di kantor.

Kebiasaan tersebut membuat Cak Noer dapat melihat langsung berbagai persoalan masyarakat.

Keluhan, kebutuhan, serta kondisi warga menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah.

Salah satu prinsip yang melekat pada dirinya adalah "Agawe Wong Cilik Melu Gumuyu", yang berarti membuat rakyat kecil ikut tersenyum atau menikmati kesejahteraan.

Ungkapan tersebut kemudian membuat Mohammad Noer dikenal dengan julukan "gubernurnya rakyat kecil".

Penggagas Jembatan Suramadu

Salah satu gagasan Mohammad Noer yang paling dikenal adalah pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura.

Ide tersebut telah muncul sejak ia menjadi Wakil Bupati Bangkalan pada 1950-an.

Saat itu, Cak Noer memiliki keinginan menjadikan kawasan Kamal di Bangkalan sebagai kota satelit Surabaya.

Ketika menjadi Gubernur Jawa Timur, ia melakukan sejumlah perubahan dalam sistem transportasi Surabaya-Kamal.

Namun, gagasan tersebut berkembang lebih jauh dengan munculnya ide pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura.

Cak Noer bahkan pernah menyatakan akan merenangi Selat Madura jika jembatan tersebut tidak kunjung dibangun.

Gagasan itu akhirnya terwujud pada 2009 melalui pembangunan Jembatan Suramadu.

Program Pagar Rumah dan Tiga-P

Selain pembangunan infrastruktur, Mohammad Noer juga memperhatikan kehidupan masyarakat desa.

Salah satu kebijakannya adalah mendorong setiap rumah warga memiliki pagar.

Kebijakan tersebut bertujuan memperjelas batas rumah sekaligus menjadi ciri khas wilayah Jawa Timur pada masa itu.

Di bidang pendidikan, Cak Noer memperkenalkan program Tiga-P, yakni Pendidikan menuju tauhid, Percaya kepada Allah, dan Perhubungan atau sarana prasarana.

Di bawah kepemimpinannya, Jawa Timur menjadi daerah pertama yang mendapatkan penghargaan Prasamya Karya Nugraha.

Atas pengabdiannya, Mohammad Noer juga menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Bintang Gerilya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana Penegak, Tanda Kehormatan Bhayangkara, Bintang Yalasena, serta Bintang Mahaputra Utama III.

Pernah Menjadi Duta Besar di Perancis

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Timur pada 1976, Mohammad Noer dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Perancis.

Dalam posisi tersebut, ia turut memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia kepada masyarakat internasional.

Pemerintah Perancis juga memberikan penghargaan Odre National Du Merite (Grand Officer) kepada Cak Noer.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai duta besar, Mohammad Noer tetap aktif dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan sosial.

Ia pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung serta terlibat dalam organisasi dan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Mohammad Noer meninggal dunia pada 16 April 2010.

Namun, pemikirannya mengenai kepemimpinan dan keberpihakan kepada masyarakat kecil kembali dikenang setelah Prabowo menyebutnya sebagai salah satu sosok yang memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya bekerja.

Pesan Cak Noer tentang pemimpin yang bekerja agar rakyat kecil dapat tersenyum menjadi salah satu warisan pemikiran yang terus dikenang dalam perjalanan kepemimpinan di Indonesia.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Memaknai HUT ke-81 RI, Wali Kota Medan Rico Waas Tekankan Pelayanan Publik dan Pembangunan SDM
Danantara Pangkas 274 BUMN
Gedung Bapenda DKI Dilalap Api, Pramono Pastikan Data Pajak dan Layanan Publik Aman
Hashim Kukuhkan 20 Ormas Baru, Perkuat Peran Masyarakat Sipil Kawal Program Pemerintah
Tak Tunggu Gedung Rampung, Pemerintah Targetkan 100 Sekolah Rakyat Mulai Beroperasi Akhir Agustus 2026
5 Provinsi Indonesia Ini Punya Penduduk Lebih Banyak dari Negara Eropa, Sumut Lampaui Swedia
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru