JAKARTA -Menteri Sosial, Tri Rismaharini, tengah menjadi pusat perhatian publik karena belum memutuskan langkah politiknya terkait Pilkada DKI Jakarta. Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, Risma mengungkapkan bahwa keputusan untuk maju dalam kontestasi politik bukanlah perkara yang mudah baginya.
Dalam konteks politik yang kerap dikaitkan dengan keuangan yang besar dan tekanan yang tinggi, Risma merasa bahwa tantangan tersebut tak bisa diabaikan begitu saja. “Yang pertama aku enggak punya uang, satu. Yang kedua, aku enggak berani. Berani, enggak berani aku ngomong,” ungkapnya dengan tegas.
Menyadari betapa beratnya tanggung jawab memimpin sebuah daerah, Risma juga menyoroti pentingnya suara rakyat yang dianggapnya sebagai suara Tuhan. Hal ini mengisyaratkan bahwa keputusan politiknya akan dipengaruhi oleh pertimbangan moral dan kepercayaan pada kehendak masyarakat.
Risma kemudian menggambarkan pengalamannya saat maju dalam Pilwalkot Surabaya, di mana awalnya ia tidak berniat menjadi wali kota. Kisah ini mencerminkan keprihatinan dan kesadaran akan tanggung jawab besar yang melekat pada jabatan kepemimpinan, terutama dalam menangani masalah sosial yang kompleks.
Pernyataan Risma juga mencerminkan sikap realistisnya terhadap dinamika politik dan tantangan yang dihadapi oleh pemimpin daerah. Meskipun dirinya telah banyak dijajaki untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta, namun ketidakpastian dan kesadaran akan tanggung jawab yang besar membuatnya belum bisa memutuskan dengan tegas.
Kehadiran Risma dalam dunia politik memberikan warna baru dan pemikiran yang matang terkait tanggung jawab seorang pemimpin. Sikap hati-hati dan pertimbangan yang cermat terhadap keputusan politiknya merupakan contoh penting bagi para pemimpin masa depan untuk selalu memprioritaskan kepentingan rakyat dan tanggung jawab sosial di atas segalanya.
Sementara publik menunggu keputusan akhir dari Risma, perbincangan terus bergulir mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya bagi ibu kota Indonesia.
(N/014)
Risma Belum Putuskan Maju Pilgub Jakarta,Tantangan Uang dan Keberanian