BREAKING NEWS
Jumat, 27 Maret 2026

Tinjauan Terhadap Dampak Penurunan Rupiah dan Saham: Kaitan Dengan Kebijakan Ekonomi di Era Prabowo?

BITVonline.com - Jumat, 14 Juni 2024 09:52 WIB
Tinjauan Terhadap Dampak Penurunan Rupiah dan Saham: Kaitan Dengan Kebijakan Ekonomi di Era Prabowo?
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA –Pasar keuangan Indonesia belakangan ini terpuruk dalam beberapa waktu terakhir. Tidak hanya dipengaruhi oleh situasi global, tetapi faktor dalam negeri juga menjadi persoalan yang membuat para investor menjadi was-was dan bahkan kabur dari pasar.

Pada perdagangan sesi I Jumat (14/6/2024), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merosot nyaris 1%, di mana IHSG kembali menyentuh level psikologis 6.700. Sementara itu, rupiah juga mengalami pelemahan signifikan. Dilansir dari Refinitiv, pada pukul 10:31 WIB, rupiah melemah 0,65% di angka Rp16.370/US$, bahkan sempat anjlok 0,67% di angka Rp16.375/US$. Posisi ini merupakan yang terparah sejak April 2020.

Menjelaskan bahwa situasi eksternal memang membuat rupiah dan saham alami situasi buruk, yang juga terjadi di banyak negara lain, khususnya negara berkembang. Namun, khusus rupiah, pelemahan terjadi lebih tajam dibandingkan dengan banyak mata uang lain. Hal ini disebabkan oleh sentimen negatif dari dalam negeri, terutama berkaitan dengan pengelolaan fiskal.

Investor sangat khawatir terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya untuk tahun 2025. Dalam Kerangan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEMPPKF), defisit anggaran direncanakan melambung ke 2,45-2,82% PDB, mendekati batas yang diatur UU yaitu 3% PDB.

Ekonom dari Universitas Diponegoro (Undip), Wahyu Widodo, menyatakan bahwa defisit anggaran lebih pada faktor psikologis dan kepercayaan pasar. Program Presiden Terpilih Prabowo Subianto dianggap ekspansif dan mampu menekan APBN, namun program untuk peningkatan penerimaan negara belum terlihat jelas.

Morgan Stanley juga menurunkan peringkat saham RI menjadi underweight, yang kemudian merespons dengan penurunan 2,27% pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari akhir penutupan perdagangan Senin (10/6/2024) hingga akhir Sesi I Jumat (14/6/2024).

Semua ini menjadi sentimen negatif terhadap perekonomian domestik, termasuk nilai tukar rupiah. Spekulasi pasar terutama terkait dengan APBN transisi untuk pemerintahan baru menjadi salah satu faktor utama dalam pelemahan ini.

Pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi tantangan serius, dan langkah-langkah cepat dan tepat diperlukan untuk mengatasi kondisi ini. Sentimen negatif harus diubah menjadi optimisme, dan langkah-langkah yang jelas dan terukur harus diambil untuk mengembalikan kepercayaan investor dan stabilitas pasar.

(N/014)

0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru