Sejumlah hadits shahih, seperti yang diriwayatkan Aisyah RA, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berpuasa lebih banyak di bulan Syaban dibanding bulan-bulan lain, kecuali Ramadan.
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh selain Ramadan, dan tidak lebih banyak dari puasa di bulan Syaban," (HR Bukhari no 1969 dan Muslim no 1156).
PuasaSyaban memiliki ketentuan khusus terkait niat, unsur yang sangat penting dalam setiap ibadahIslam.
Niat merupakan ketetapan hati untuk beramal semata-mata karena Allah SWT.
Dalam fikih Islam, niat membedakan antara ibadah wajib dan sunnah, sekaligus menentukan sahnya puasa.
Menurut buku 125 Masalah Puasa karya Muhammad Anis Sumaji, niat termasuk amalan hati, bukan ucapan lisan atau tindakan fisik.
Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa cukup hadir di hati, tanpa harus diucapkan.
Untuk puasa wajib, niat harus dilakukan sebelum fajar, seperti puasa Ramadan.
Namun, puasa sunnah, termasuk puasa Syaban, niat masih diperbolehkan setelah fajar dengan syarat belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa, sebagaimana hadits dari Imam Muslim:
"Suatu hari, Rasulullah masuk rumah kami dan bertanya, 'Apa kalian memiliki makanan?' Kami menjawab, 'Tidak ada.' Rasulullah pun bersabda, 'Kalau begitu aku akan berpuasa.'"
Selain itu, hadits terkenal dari Umar bin Khaththab RA menegaskan:
"Sesungguhnya sahnya amal itu bergantung pada niatnya dan setiap orang juga bergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah berniat karena dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, ia akan mendapatkannya. Hijrah seseorang bergantung pada niatnya." (HR Bukhari dan Muslim).
Bagi umat Muslim, niat puasa Syaban dapat dilafalkan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i sunnati Syabāna lillāhi ta'ālā Arti: "Aku berniat puasa sunnahSyaban besok hari karena Allah SWT."
Dengan memahami hakikat niat dan mengikuti sunnahRasulullah SAW, puasa Syaban menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amalan, serta menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan lebih khusyuk dan bermakna.*