Dalam ajaran Islam, kekikiran mencerminkan penyakit hati yang berdampak luas, baik bagi hubungan sosial maupun spiritual.
Menurut Muhammad Ash Shallabi dalam Negara Islam Modern, sifat pelit tidak hanya merenggangkan ikatan sosial, tetapi juga menimbulkan dosa besar yang menjauhkan seorang Muslim dari rahmat Allah SWT.
"Jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, mereka akan dikalungi dengan sesuatu yang dengannya mereka berbuat kikir. Milik Allahlah warisan (yang ada di) langit dan di bumi. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini mengingatkan bahwa pelit bukanlah kebijakan, melainkan ancaman bagi diri sendiri.
Sikap kikir dapat menutup pintu rezeki, bahkan menjadi penghalang masuk surga, sebagaimana hadis Rasulullah SAW:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang yang bakhil (pelit), serta mereka yang berperangai buruk." (HR. At-Tirmidzi)
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan kesedihan, dari ketakutan, kemalasan, kekikiran, dan dari tekanan hutang maupun paksaan orang lain." (HR. Bukhari, Baihaqi & Ahmad)
Rutin mengamalkan doa ini diyakini dapat melembutkan hati, menumbuhkan rasa dermawan, serta melancarkan aliran rezeki.
Islam menekankan bahwa kedermawanan adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mempererat hubungan dengan sesama.