Berdasarkan penjelasan Saudipedia Kementerian Media Kerajaan Arab Saudi, desain Masjidil Haram menekankan fungsi ibadah.
Area Mataf, tempat tawaf mengelilingi Ka'bah, harus mampu menampung jamaah secara bersamaan, sementara jalur Mas'aa mengikuti rute historis antara Safa dan Marwa.
Prioritas utama setiap tahap perluasan masjid adalah kelancaran arus manusia, keamanan, dan kapasitas, bukan keseragaman estetika.
Sejak masa awal, Masjidil Haram mengalami berbagai fase pembangunan.
Setiap perluasan harus mengintegrasikan bangunan lama yang tidak selalu sejajar, sehingga bentuk masjid berkembang secara organik.
Alih-alih membongkar seluruh struktur, penguasa Kerajaan Arab Saudi menyesuaikan dan menambah bangunan lama, menghasilkan tata ruang yang dinamis dan fungsional.
Perluasan signifikan dimulai pada masa Raja Abdulaziz Ibn Saud setelah Mekkah kembali ke tangan kerajaan pada 1924.
Seluruh masjid diterangi listrik, Mas'aa dipindahkan ke dalam kompleks masjid, dan kapasitas meningkat 58 persen.
Renovasi meliputi lantai marmer, kanopi di halaman tawaf, hingga pendirian pabrik Kiswah Ka'bah.