BREAKING NEWS
Jumat, 27 Februari 2026

Al-Quran Ajarkan Umat Islam Peduli Lingkungan, Banjir Sumatera Jadi Alarm

T.Jamaluddin - Jumat, 27 Februari 2026 14:15 WIB
Al-Quran Ajarkan Umat Islam Peduli Lingkungan, Banjir Sumatera Jadi Alarm
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ACEH BESAR – Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam melalui integrasi iman, ilmu, dan aksi lingkungan.

Hal itu disampaikannya dalam khutbah Jumat di Masjid Babul Iman, Gampong Lambheu, Kecamatan Darul Imarah, Jumat (27/2/2026), bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 H.

Rahmadon merujuk pada Al-Qur'an Surat Lukman ayat 20 yang berbunyi: "Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu, dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, lahir dan batin?"

Baca Juga:

Ia menafsirkan frasa "menundukkan langit dan bumi" secara ilmiah sebagai bentuk fine-tuning kosmologis yang memungkinkan kehidupan di bumi, termasuk atmosfer yang menyerap radiasi ultraviolet, medan magnet yang melindungi bumi dari angin matahari, dan konstanta gravitasi yang menjaga stabilitas orbit.

Menurut Rahmadon, nikmat lahir tidak hanya berupa udara dan air, tetapi juga siklus hidrologi global yang mendistribusikan air secara seimbang.

Sementara nikmat batin tercermin dalam kapasitas akal manusia, yang memungkinkan kesadaran etis dan refleksi rasional.

Ia mengaitkan ayat ini dengan bencana banjir besar yang melanda beberapa wilayah Sumatera pada November 2025, termasuk Aceh Tamiang, Tapanuli Utara, dan Agam.

Curah hujan ekstrem diperparah kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat deforestasi.

Hilangnya tutupan hutan meningkatkan limpasan permukaan dan erosi tanah, sehingga hujan yang seharusnya menjadi nikmat berubah menjadi bencana hidrometeorologi.

Rahmadon juga menekankan pentingnya sikap ilmiah dan tanggung jawab.

"Sikap blame-shifting, menyalahkan cuaca atau pemerintah semata, tanpa solusi berbasis data seperti restorasi ekosistem DAS, adalah pengabaian terhadap amanah ilmiah," ujarnya.

Dalam momentum Ramadhan 1447 H, Rahmadon mendorong umat Islam untuk menerapkan eco-theology, yakni refleksi batin yang berbuah aksi nyata.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Tafakkur atas nikmat air saat sahur dan menyusun sedekah untuk program reboisasi.
- Berdoa dan membantu korban banjir saat tarawih.
- Berbagi makanan dengan pengungsi dan keluarga terdampak saat berbuka.
- Menyusun program penanaman pohon dan rehabilitasi DAS saat i'tikaf secara kolaboratif.

Rahmadon menegaskan, banjir Sumatera 2025 bukan hukuman ilahi, melainkan alarm sistemik atas kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis

"Nikmat lahir dan batin menuntut stewardship ilmiah, bukan ritual kosong. Allah Swt telah memudahkan langit dan bumi untuk kita, maka kita pun wajib memudahkan kehidupan saudara-saudara kita," tegasnya.

Ia berharap dari masjid-masjid lahir gerakan nyata berupa satu pohon ditanam, satu kehidupan diselamatkan.

"Inilah jawaban umat terhadap panggilan Lukman, iman yang berbuah aksi, ilmu yang melahirkan solusi," tutupnya.*


(ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pemkot Medan Buka 4.000 Kuota Mudik Gratis Lebaran 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya!
Sejarah dan Keindahan Masjid Agung Sibolga, Ikon Kerukunan Antar-Etnis di Sumut
Korupsi Proyek Jalan Sumut, PPK BBPJN Heliyanto Dituntut 5 Tahun Penjara
Anggota Komisi III Hinca Panjaitan Dorong Kajati Sumut Berani Menuntaskan Kasus HGU Mandek Bertahun-tahun
Menjelang Ramadhan, Bulog Sumut Pastikan Stok Beras & Minyak Goreng Aman
Bareskrim Tangkap Buron Bandar Sabu Ko Erwin di Tanjung Balai!
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru