BREAKING NEWS
Jumat, 03 April 2026

Tingkatkan Ketakwaan dengan Memaafkan, Pesan Prof. Maizuddin di Khutbah Jumat

T.Jamaluddin - Jumat, 03 April 2026 14:56 WIB
Tingkatkan Ketakwaan dengan Memaafkan, Pesan Prof. Maizuddin di Khutbah Jumat
Prof. Dr. Maizuddin, M.Ag, Guru Besar Ilmu Hadis UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam khutbah Jumat di Masjid Babuttaqwa Aspol Lamteumen Barat, Banda Aceh, pada Jumat (3/4/2026). (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH – Memaafkan kesalahan orang lain tidak hanya menjadi kunci dalam menjaga hubungan sosial yang harmonis, tetapi juga menjadi indikator utama ketakwaan seorang Muslim kepada Allah SWT.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Maizuddin, M.Ag, Guru Besar Ilmu Hadis UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam khutbah Jumat di Masjid Babuttaqwa Aspol Lamteumen Barat, Banda Aceh, pada Jumat (3/4/2026).

Dalam khutbahnya, Prof. Maizuddin menegaskan bahwa memaafkan adalah bagian dari ibadah yang sangat penting dalam agama Islam.

Baca Juga:

"Memberi maaf merupakan sifat mulia yang menunjukkan kualitas ketakwaan seseorang di hadapan Allah," ujarnya, mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133–135. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ciri-ciri orang bertakwa di antaranya adalah gemar berinfak, mampu menahan amarah, dan memberi maaf kepada orang lain.

Memaafkan Sebagai Karakter Seorang Mukmin

Menurut Prof. Maizuddin, memaafkan bukanlah sekadar tindakan sesaat, tetapi seharusnya menjadi karakter yang melekat pada diri seorang Muslim. "Kata dalam bentuk isim fa'il pada ayat tersebut menunjukkan bahwa sikap memaafkan harus konsisten dilakukan kepada siapa pun, tanpa membeda-bedakan," jelasnya. Ia menambahkan bahwa memaafkan merupakan cara Allah mendekatkan umat-Nya dengan sifat-Nya yang Maha Pengampun.

Lebih lanjut, Prof. Maizuddin menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengajarkan beberapa tingkatan dalam memberi maaf. "Tingkat pertama adalah tidak membalas keburukan dengan keburukan," kata dia.

Pada tahap ini, seseorang harus mampu menahan emosi dan tidak memperburuk keadaan, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai peristiwa dakwahnya.

Tingkat kedua, lanjutnya, adalah sikap tidak mempermasalahkan kesalahan yang telah terjadi dan berlapang dada saat berinteraksi kembali.

"Ini adalah sikap yang mencerminkan keluasan hati," ujarnya. Menurutnya, sikap ini membuka ruang untuk memperbaiki hubungan dengan penuh keramahan dan tanpa dendam.

Sementara itu, tingkat tertinggi dalam memaafkan, menurut Prof. Maizuddin, adalah menutupi kesalahan orang lain dan tidak menyebarkannya.

"Ini adalah bentuk pemaafan paling sempurna karena mengandung nilai kasih sayang dan menjaga martabat sesama," kata Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry tersebut.

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Menaker Yassierli Tegaskan Pentingnya Hubungan Industrial yang Kolaboratif di Era Digital
Masjid dan Gereja Hidup Harmonis, Rico Waas Sebut Inilah Fondasi Kota Medan
Kanwil Kemenkum Bali Harmonisasi Ranperbup Insentif Fiskal untuk Proyek Strategis Nasional di Badung
Polres Gianyar Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat melalui Minggu Kasih, Penyerahan Bantuan Sosial dan Olahraga
Pelantikan Kapekon dan Pj.Kapekon di Pringsewu: Bupati Riyanto Pamungkas Ingatkan Tugas Berat dan Tanggung Jawab Besar
Bupati Baharuddin Tegaskan Sinergitas antara Eksekutif dan Legislatif Sangat Diperlukan untuk Kesejahteraan Rakyat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru