BREAKING NEWS
Minggu, 26 Juli 2026

Dakwah Kultural Harus Mampu Menjawab Tantangan Zaman Tanpa Kehilangan Prinsip Islam

T.Jamaluddin - Minggu, 26 Juli 2026 11:00 WIB
Dakwah Kultural Harus Mampu Menjawab Tantangan Zaman Tanpa Kehilangan Prinsip Islam
Rektor Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Dr. H. Aslam Nur, M.A. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH – Rektor Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Dr. H. Aslam Nur, M.A., menegaskan bahwa dakwah Islam harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Menurutnya, pendekatan dakwah yang memahami budaya masyarakat atau dakwah kultural menjadi salah satu strategi penting untuk menghadapi tantangan era globalisasi dan digital.

Hal itu disampaikan Aslam Nur dalam Pengajian Rutin Ahad Subuh bertema "Dakwah Kultural: Menyampaikan Islam Tanpa Kehilangan Prinsip" di Masjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, Minggu, 26 Juli 2026.

Baca Juga:

Dalam ceramahnya, Aslam menjelaskan bahwa masyarakat memiliki latar belakang budaya, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Karena itu, metode penyampaian dakwah harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat tanpa mengubah substansi ajaran Islam.

"Tema yang kita bahas pada kesempatan ini adalah Dakwah Kultural. Tema ini sangat penting karena berkaitan dengan cara menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, tradisi, dan kebiasaan yang beragam," kata Ustaz Dr. H. Aslam Nur, M.A.

Aslam menjelaskan, konsep Dakwah Kultural Muhammadiyah mulai dirumuskan dalam Tanwir Muhammadiyah tahun 2002 di Bali dan kemudian ditetapkan sebagai kebijakan resmi pada Tanwir Muhammadiyah tahun 2003 di Makassar.

Menurutnya, konsep tersebut lahir sebagai respons terhadap anggapan bahwa Muhammadiyah terlalu kaku dalam menyikapi budaya masyarakat.

Di sisi lain, dunia saat itu mulai memasuki era globalisasi yang membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan.

Globalisasi, kata Aslam, tidak hanya mempercepat perkembangan teknologi dan informasi, tetapi juga mempercepat penyebaran budaya, gaya hidup, hingga pola pikir masyarakat.

Karena itu, Muhammadiyah memandang perlu menghadirkan strategi dakwah yang tetap menjaga kemurnian ajaran Islam, namun disampaikan dengan pendekatan yang lebih bijaksana dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Mengutip Al-Qur'an Surah An-Nahl ayat 125, Aslam menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

"Artinya, dakwah tidak boleh hanya benar secara materi, tetapi juga harus bijaksana dalam cara penyampaiannya."

Aslam menjelaskan bahwa dakwah kultural bukan berarti menerima seluruh budaya tanpa batas.

Menurutnya, dakwah kultural adalah upaya menyampaikan ajaran Islam dengan memahami realitas sosial dan budaya masyarakat, kemudian memanfaatkan unsur budaya yang tidak bertentangan dengan syariat sebagai media dakwah.

"Dengan kata lain, Muhammadiyah tidak memusuhi budaya. Yang ditolak bukan budayanya, tetapi unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Ia menambahkan, Muhammadiyah sejak awal berdiri menjalankan semangat tajdid atau pembaruan melalui dua pendekatan, yaitu purifikasi dan dinamisasi.

Purifikasi bertujuan memurnikan akidah dan ibadah dari syirik, tahayul, bid'ah, dan khurafat.

Sementara dinamisasi diarahkan untuk mengembangkan kehidupan umat melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan, ekonomi, dan kebudayaan yang selaras dengan syariat Islam.

Menurut Aslam, dakwah kultural justru berfungsi sebagai penyaring terhadap budaya.

Budaya yang baik dipertahankan, budaya yang bertentangan dengan syariat diperbaiki, sedangkan budaya yang mengandung unsur kemusyrikan harus ditinggalkan.

Dalam ceramahnya, Aslam juga mengingatkan bahwa budaya tidak hanya terbatas pada seni, tari, musik, atau pakaian adat.

Budaya, kata dia, mencakup seluruh hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, mulai dari bahasa, teknologi, sistem pendidikan, arsitektur, hingga kebiasaan hidup sehari-hari.

Karena itu, Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, melainkan membimbing budaya agar tetap selaras dengan nilai-nilai tauhid.

Ia mencontohkan penggunaan bahasa daerah, media sosial, teknologi digital, kesenian yang tidak bertentangan dengan syariat, serta tradisi gotong royong dan musyawarah sebagai sarana dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.

Aslam menilai perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat membentuk budaya.

Saat ini, media sosial, film, musik, permainan digital, dan berbagai platform internet ikut memengaruhi pola pikir generasi muda.

Karena itu, menurutnya, dakwah tidak cukup hanya dilakukan di mimbar masjid, tetapi juga harus hadir di ruang digital dengan pendekatan yang santun, menarik, dan mudah dipahami.

"Prinsipnya adalah cara boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh berubah."

Menutup ceramahnya, Aslam menegaskan bahwa dakwah kultural bukanlah upaya mencampurkan agama dengan budaya ataupun membenarkan seluruh tradisi masyarakat.

Dakwah kultural merupakan strategi menyampaikan Islam secara bijaksana dengan memanfaatkan budaya yang baik, sekaligus menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai standar utama dalam menyaring setiap bentuk budaya.

Ia berharap umat Islam mampu menghadirkan wajah Islam yang murni, moderat, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai umat Islam.

"Semoga Allah SWT memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hikmah dalam berdakwah, serta kemampuan menjaga kemurnian agama sekaligus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Aamiin ya Rabbal 'alamiim."* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Komeng Dukung Bang Azran Pimpin FORKABI: Memajukan Budaya Betawi adalah Amanat Konstitusi
Prof. OK Saidin: Saatnya MABMI Satukan Kekuatan Puak Melayu Bangun Ekonomi dan Pendidikan
AMPI Binjai dan Pemko Gelar Gerakan Safari Dakwah Subuh, Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid
BWI Siap Fasilitasi Penyelesaian Status Wakaf Blang Padang, Pemerintah Aceh Sambut Positif
Umat Islam Diajak Perkuat Tiga Benteng Iman Hadapi Godaan Syaithan di Era Digital
Pemkab Asahan Tampilkan Seni Budaya dan UMKM Unggulan di PRSU ke-50, Kenalkan Potensi Daerah ke Masyarakat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru