BREAKING NEWS
Jumat, 14 Agustus 2026

Dahsyatnya Sakaratul Maut, Umat Islam Diingatkan Perbanyak Amal Terbaik

T.Jamaluddin - Jumat, 14 Agustus 2026 14:12 WIB
Dahsyatnya Sakaratul Maut, Umat Islam Diingatkan Perbanyak Amal Terbaik
Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar, Tgk. Afrizal Sofyan, S.Pd.I, M.Pd. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ACEH BESAR — Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar, Tgk. Afrizal Sofyan, S.Pd.I, M.Pd, mengingatkan umat Islam untuk mempersiapkan kematian dengan memperbanyak amal terbaik atau ahsanu 'amala.

Menurut dia, kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari dan menjadi pintu menuju kehidupan akhirat yang kekal.

Pesan tersebut disampaikan Tgk. Afrizal dalam khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas, Ie Alang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Jumat, 14 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 1 Rabiul Awwal 1448 Hijriah.

Baca Juga:

Tgk. Afrizal mengatakan Al-Qur'an dan hadis menggambarkan kematian sebagai perkara yang sangat dahsyat dan penuh kesulitan.

Kematian juga menjadi batas berakhirnya kesempatan manusia untuk memperbanyak amal.

Allah Swt berfirman dalam Surah Qaf ayat 19, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari."

Menurut Tgk. Afrizal, istilah sakaratul maut menggambarkan kondisi berat yang dialami seseorang ketika ruh hendak keluar dari jasad.

Bahkan Rasulullah saw sebagai manusia paling mulia juga mengalami beratnya sakaratul maut.

Ia mengutip hadis riwayat Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa menjelang wafat, Rasulullah saw memasukkan tangannya ke dalam bejana berisi air, kemudian mengusapkan air tersebut ke wajahnya seraya bersabda, "Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat."

"Ini menunjukkan, beratnya sakaratul maut bukan hanya dialami orang-orang yang buruk di sisi Allah SWT. Orang-orang saleh sekalipun dapat merasakan dahsyatnya sakaratul maut, sebagaimana Rasulullah saw ," ujarnya.

Empat Hal yang Membuat Sakaratul Maut Dahsyat

Tgk. Afrizal menjelaskan pandangan Imam al-Qurthubi dalam kitab At-Tazkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah.

Dalam kitab tersebut, sakaratul maut digambarkan sebagai fase kritis dan menakutkan sebelum seseorang meninggalkan dunia.

Menurut Tgk. Afrizal, setidaknya ada empat hal yang membuat fase sakaratul maut begitu dahsyat.

Pertama, seseorang yang berada dalam kondisi sakaratul maut dapat menyaksikan sesuatu yang sebelumnya tidak mampu dilihat, termasuk malaikat dan alam gaib.

Ia merujuk hadis al-Bara' bin 'Azib r.a yang diriwayatkan Imam Ahmad mengenai kedatangan para malaikat yang menyertai malaikat pencabut nyawa.

Kedua, seseorang diperlihatkan gambaran tempatnya di alam akhirat.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa orang yang meninggal diperlihatkan tempatnya pada pagi dan petang.

Jika seseorang termasuk penghuni surga, ia diperlihatkan tempatnya di surga.

Sebaliknya, jika termasuk penghuni neraka, ia diperlihatkan tempatnya di neraka.

Ketiga, sakaratul maut menjadi fase munculnya penyesalan atas kelalaian selama hidup di dunia.

Tgk. Afrizal mengutip Surah Al-Mu'minun ayat 99-100 yang menggambarkan orang yang akan meninggal meminta agar ajalnya ditangguhkan sehingga dapat beramal saleh.

Namun, ketika ajal telah tiba, kesempatan tersebut tidak dapat dikembalikan.

Keempat, sakaratul maut dipenuhi kesedihan. Manusia harus berpisah dengan dunia, keluarga, harta, jabatan, serta berbagai kenikmatan yang selama ini dimiliki.

"Imam al-Qurthubi menyimpulkan bahwa sakaratul maut merupakan fase paling menakutkan dalam kehidupan manusia karena di dalamnya berkumpul rasa sakit, ketakutan, penyesalan, kesedihan dan kekhawatiran dalam menghadapi awal kehidupan akhirat," jelasnya.

Kematian Menjadi Pengingat untuk Memperbaiki Amal

Tgk. Afrizal mengatakan Allah Swt tidak membiarkan manusia menghadapi kematian tanpa petunjuk.

Al-Qur'an telah memberikan pedoman agar manusia mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya.

Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2, "Yaitu (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."

Menurut Tgk. Afrizal, ungkapan ahsanu 'amala atau amal yang terbaik menjadi salah satu kunci dalam mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

"Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi perpindahan dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat yang kekal," katanya.

Ia menjelaskan pandangan Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an mengenai susunan ayat tersebut.

Allah SWT mendahulukan kata "kematian" sebelum "kehidupan", meskipun dalam pengalaman manusia kehidupan dijalani terlebih dahulu sebelum kematian.

Menurut Imam al-Qurthubi, penyebutan kematian terlebih dahulu memiliki beberapa tujuan.

Pertama, menarik perhatian manusia terhadap kematian.

Kedua, menggugah dan membangunkan hati manusia agar menyadari kepastian kematian.

Ketiga, memberikan kesan serius bahwa manusia harus mempersiapkan diri menghadapi kematian.

"Allah Swt mengingatkan manusia bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Karena itu, gunakan kehidupan yang diberikan Allah untuk mempersiapkan kematian dengan amal terbaik," pungkas Tgk. Afrizal.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Semarakkan HUT RI dan MA ke-81, Hampir 200 Peserta Tumpah Ruah Ikuti Gerak Jalan Santai PT BNA
Bupati Batu Bara Terima Audiensi MPK Indonesia Wilayah I Sumut–Aceh, Bahas Rakernas dan Inovasi Pertanian
Kenapa Disebut Doa Sapu Jagat? Ini Asal Sebutan dan Makna Doanya
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Jumat 14 Agustus 2026: Sebagian Besar Wilayah Berawan
Kibarkan Merah Putih di Tebing Ekstrem Lampuuk: Komunitas Pemancing Padukan Perayaan HUT RI dengan Edukasi Keselamatan Rockfishing
Cegah Ancaman SiLPA dan Serapan Nol Persen: Satgas PRR Minta Pemprov Aceh Dampingi Pemda Maksimalkan Dana TKD Pascabencana
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru