Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
ACEH BESAR - Fenomena terkikisnya akhlak dan ketertiban adab menjadi perhatian umat Islam.
Perubahan perilaku tersebut dinilai tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga semakin terasa di ruang digital.
Baca Juga:
Pengajar Dayah Daruzzahidin, Lamceu, Aceh Besar, Tgk Ahmad Khusairi, Lc, M.Ag, menyampaikan hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid Asy-Syuhada Lampanah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Jumat, 28 Agustus 2026, bertepatan dengan 15 Rabiul Awwal 1448 Hijriah.
Menurut Ahmad Khusairi, ghibah, adu domba, membicarakan aib orang lain, mencela, dan menyebarkan prasangka masih mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat.
Fenomena tersebut, kata dia, dapat terjadi di berbagai tempat, mulai dari kedai kopi hingga lingkungan gampong dan pekarangan meunasah.
Ia juga menyoroti perilaku masyarakat di ruang digital.
Penggunaan TikTok, Instagram, WhatsApp, dan Facebook dinilai turut menghadirkan tantangan baru dalam menjaga etika, terutama bagi generasi muda.
Caci maki, cyberbullying, ujaran kebencian, hingga penyebaran berita bohong atau hoax disebut kerap dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
"Demikian pula retaknya adab orang muda kepada yang tua. Kesopanan anak muda kepada orang tua makin menipis. Sebaliknya, terkadang keteladanan dan kesabaran dari yang tua kepada yang muda juga semakin berkurang," ungkapnya.
Ahmad Khusairi mengatakan lisan dan jemari yang tidak digunakan dengan baik dapat merusak hubungan antarmasyarakat.
Perilaku tersebut juga dapat mengganggu keharmonisan dan mencoreng identitas umat yang mengaku mencintai Nabi Muhammad saw.
Ia mengingatkan sabda Rasulullah saw tentang pentingnya menjaga lisan dan tangan dari tindakan yang merugikan orang lain.
"Seorang Muslim sejati adalah orang yang membuat Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Ahmad Khusairi, Rasulullah saw merupakan teladan dalam menjaga etika berbicara.
Nabi tidak membalas caci maki dengan celaan, tidak mengutuk, tidak menyindir, serta tidak menggunakan lisannya untuk merendahkan orang lain.
Baca Juga:
Ia juga mengutip Al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 159 yang menggambarkan kelembutan akhlak Nabi Muhammad saw.
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."
Tiga Prinsip Menjaga Lisan
Dalam khutbahnya, Ahmad Khusairi menjelaskan tiga prinsip yang diajarkan Nabi dalam menjaga lisan.
Pertama, qaulan sadida, yakni menyampaikan perkataan yang benar dan bijak.
Menurut dia, seseorang harus berbicara berdasarkan fakta, bukan berdasarkan dugaan atau fitnah.
Jika tidak ada hal baik yang dapat disampaikan, ia mengingatkan pentingnya memilih diam.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam."
Kedua, tabayyun atau melakukan klarifikasi.
Sebelum menyebarkan
informasi, terutama melalui grup percakapan dan
media sosial, masyarakat diminta memastikan terlebih dahulu kebenaran
informasi tersebut.
Ketiga, kafful adza, yaitu menahan diri dari tindakan yang dapat menyakiti orang lain.
Prinsip ini termasuk tidak menjadikan kekurangan fisik maupun status sosial seseorang sebagai bahan ejekan atau bullying.
Baca Juga:
Media Sosial Diminta Jadi Sarana SyiarAhmad Khusairi mengatakan generasi saat ini hidup pada era ketika informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik.
Karena itu, penggunaan media sosial harus disertai tanggung jawab.
"Jangan biarkan media sosial menjadi ladang dosa yang menguras pahala amal ibadah. Jadikan HP kita sebagai alat syiar, bukan alat celaan," tegasnya.
Ia meminta masyarakat mempertimbangkan setiap konten yang hendak dibagikan.
Salah satu pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri adalah apakah unggahan tersebut sesuai dengan akhlak yang dicontohkan Rasulullah.
Saat menyebarkan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah Rasulullah ridha jika melihat ketikan atau video saya ini?"
Ahmad Khusairi juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali adab dan menjaga kehormatan sesama.
Ia meminta meunasah dan masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk menuntut ilmu, berdiskusi dengan santun, dan mempererat silaturahmi.
Ia secara khusus mengingatkan
generasi muda agar menghormati orang tua dan para ulama.
Menurut dia, keberkahan hidup tidak ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang dimiliki, tetapi juga oleh ketaatan dan kesantunan kepada orang tua.
"Kemudian, generasi tua dan para orang tua memberikan keteladanan, bukan hanya teguran . Untuk itu, dekati mereka dengan kasih sayang sebagaimana Nabi merangkul para sahabat muda seperti Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik. Jangan terburu-buru menghakimi, namun bimbinglah mereka menghadapi tantangan zaman digital ini," pungkasnya.* (ad)
Baca Juga:
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.