IEA mencatat produksi minyak Saudi pada Juni mencapai 9,8 juta barel per hari (bph), atau 430.000 bph di atas target OPEC+ sebesar 9,37 juta bph.
Meski begitu, otoritas energi Saudi menegaskan bahwa volume ekspor tetap mengikuti kuota yang disepakati.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar turut mencermati rilis awal data perdagangan komoditas dari China, yang dijadwalkan pada Senin ini.
Sebagai konsumen energi terbesar kedua dunia, data ini akan menjadi indikator penting terhadap prospek permintaan minyak global.
Perhatian investor juga tertuju pada kelanjutan pembicaraan tarif antara AS dan mitra dagang utama, di tengah ancaman kebijakan tarif baru dari Trump terhadap Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus.
Ketidakpastian ini dikhawatirkan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.*