"Kalau orang yang teknikal jangka pendek, mungkin tidak bisa mengerti bagaimana bisa sampai ke 36 ribu," ungkap Purbaya, Jumat (10/10).
Purbaya menyoroti sejarah pergerakan IHSG sebagai dasar proyeksi tersebut. Pada 2001, IHSG berada di level 300-an, kemudian naik menjadi 2.500 pada 2008.
Meski sempat turun saat krisis global 2008, IHSG berhasil naik kembali ke 6.500 pada 2018. Saat ini, IHSG berada pada level 8.000.Menurut Purbaya, pola kenaikan IHSG mengikuti siklus bisnis yang biasanya berlangsung antara tujuh hingga sepuluh tahun. "Dari mulai naik sampai di ujung siklus itu, biasanya hanya 4 sampai 6 kali," jelasnya.
Ia menambahkan, jika pertumbuhan ekonomi nasional terus berada di atas 6 persen, IHSG berpotensi meningkat empat hingga enam kali lipat dalam jangka panjang.
Purbaya menekankan, kenaikan ini akan didorong oleh fundamental ekonomi dan perkembangan perusahaan yang membesar, bukan sekadar fluktuasi spekulatif.
"Kalau kita ciptakan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, gambarnya akan berbeda. Bukan karena 'goreng-goreng' yang naik, tapi karena fundamental ekonomi yang kuat sehingga nilai perusahaan di pasar meningkat seiring perkembangan bisnisnya," kata Menkeu.Prediksi ini memberikan sinyal optimisme bagi investor dan pelaku pasar modal Indonesia, sekaligus menekankan pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil untuk mendorong performa pasar saham jangka panjang.*
(cn/mt)
Editor
:
Mengguncang Pasar! Menkeu Prediksi IHSG Bisa Tembus 36 Ribu Jika Ekonomi Tumbuh di Atas 6%