Menurut Sarmuji, perusahaan yang akan mengelola eksporkomoditas sumber daya alam strategis tersebut membutuhkan figur yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.
"Kompetensi dan integritas adalah kunci karena PT DSI akan mengelola penjualan sumber daya yang sangat besar," kata Sarmuji kepada wartawan, Jumat, 22 Mei 2026.
Anggota Komisi VI DPR RI itu menilai penunjukan sosok profesional di luar jejaring bisnis dan politik dalam negeri berpotensi memperkecil praktik kolusi maupun konflik kepentingan dalam pengelolaan ekspor sumber daya alam.
Ia menduga Presiden Prabowo Subianto ingin memastikan tata kelola eksporkomoditas nasional berjalan lebih transparan dan akuntabel.
"Tujuannya agar tidak ada penyelewengan lagi. Presiden mungkin bermaksud memutus rantai kongkalikong yang melibatkan perkawanan," ujar Sarmuji.
Menurut dia, keberadaan Luke Thomas Mahony di posisi strategis tersebut dapat meminimalkan pengaruh relasi pertemanan yang selama ini kerap menjadi celah terjadinya praktik penyimpangan.
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa Luke Thomas Mahony diproyeksikan memimpin PT DSI.
"Untuk saat ini, Luke Thomas," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Rosan mengatakan pembentukan struktur PT DSI masih dalam tahap finalisasi.
Pihaknya juga akan meminta masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk kalangan dunia usaha dan asosiasi industri.
Menurut dia, Danantara akan menggelar serangkaian pertemuan dengan organisasi bisnis seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), asosiasi sawit, hingga pelaku industri pertambangan untuk menyerap masukan terkait pembentukan perusahaan tersebut.