BREAKING NEWS
Jumat, 06 Maret 2026

Rupiah Melemah ke Rp16.745 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Mendominasi

Adelia Syafitri - Kamis, 20 November 2025 10:01 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.745 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Mendominasi
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tergelincir pada pembukaan perdagangan Kamis, 20 November 2025.

Bergerak di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan tekanan eksternal kawasan Asia, rupiah dibuka melemah 0,22 persen ke posisi Rp16.745 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg pukul 09.08 WIB.

Kinerja rupiah berada searah dengan sebagian besar mata uang Asia lainnya.

Baca Juga:

Yen Jepang terkoreksi 0,18 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, dolar Taiwan melemah 0,02 persen, won Korea Selatan turun 0,07 persen, sementara peso Filipina anjlok 0,24 persen.

Yuan China turun 0,04 persen dan ringgit Malaysia melemah 0,18 persen. Baht Thailand mengikuti dengan koreksi tipis 0,06 persen.

Hanya sedikit mata uang yang berhasil bertahan. Rupee India menguat 0,02 persen, sementara dolar Hong Kong naik hingga 0,09 persen.

Penguatan dolar AS dipicu notulen rapat Federal Reserve yang menunjukkan bank sentral belum melihat kemungkinan pemotongan suku bunga pada Desember.

Indeks dolar naik 0,5 persen semalam dan kembali mendaki pagi ini ke level 100,24.

Sikap hati-hati The Fed membuat pasar menahan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

Probabilitas pemotongan suku bunga Desember di pasar AS kini turun di bawah 25 persen, jauh dari prediksi sebulan sebelumnya yang sempat mendekati kepastian.

Di Asia, tekanan paling besar menimpa yen Jepang yang jatuh ke level 157,18 per dolar, titik terlemah dalam sepuluh bulan terakhir.

Pernyataan Menteri Keuangan Satsuki Katayama bahwa tidak ada pembahasan khusus mengenai kebijakan valuta asing memperkuat kekhawatiran pasar.

Yen telah terdepresiasi sekitar 6 persen sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi terpilih, meski imbal hasil obligasi Jepang meningkat.

Pasar menilai rencana stimulus pemerintah membutuhkan beban pinjaman besar yang menimbulkan ketidaknyamanan investor.

"Sedang berlangsung narasi 'Jual Jepang' yang tidak bisa diabaikan," kata Vishnu Varathan, Kepala Riset Mizuho Asia, menilai relasi pasar sudah tidak stabil.

Selain yen, mata uang Eropa dan Australia juga mengalami pelemahan setelah notulen The Fed dirilis.

Pasar kini mengalihkan perhatian ke Selandia Baru, yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga pada minggu depan.

Bagi Indonesia, pelemahan rupiah kali ini merupakan respons pasar terhadap dinamika eksternal yang belum mereda, kombinasi dari penguatan dolar, ketidakpastian moneter global, dan tekanan regional.*


(bi/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Kamis (20/11) Dibuka Hijau, BMRI dan SGRO Jadi Saham Favorit
Harga Emas Antam Naik Rp 21 Ribu, Saatnya Beli?
Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.745 per Dolar AS, Mata Uang Asia Bergerak Variatif
IHSG Dibuka Menguat 0,42%, Investor Menanti Keputusan BI Rate Hari Ini
Harga Emas Antam Naik Rp21.000/Gram, Saatnya Serok ‘Bargain Hunting’?
Rupiah Melemah ke Rp16.750 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Nonfarm Payrolls AS
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru