JAKARTA – Euforia bullish yang mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang akhir 2025 membuat indeks mendekati level psikologis 9.000.
Namun laju penguatan yang agresif ini tetap dibayangi potensi koreksi seiring tanda jenuh beli di pasar.
Pada perdagangan Jumat, 28 November 2025, IHSG melemah 0,43 persen ke level 8.508,706, setelah sempat menyentuh 8.572,359 di awal sesi sebelum tekanan jual menekan indeks ke zona negatif.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menyebut tren bullish IHSG masih kuat.
Ia mencatat indeks telah naik 9,4 persen sejak Purbaya Yudha Sadewa menjabat Menteri Keuangan dan berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Target pemerintah agar IHSG menembus 9.000 dinilai menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.
Meski demikian, Azharys mengingatkan peluang retracement tidak dapat diabaikan.
"Investor dapat menerapkan strategi diversifikasi yang seimbang untuk mengelola fluktuasi pasar, sehingga tetap dapat memanfaatkan peluang tanpa mengabaikan potensi koreksi," kata Azharys kepada Tempo.
Reli IHSG dalam tiga bulan terakhir banyak ditopang arus modal asing yang mencapai Rp 20,25 triliun.
Inflow ini merefleksikan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap stabilitas pasar modal Indonesia.
Pasar yang sebelumnya didominasi investor domestik kini mendapatkan suntikan likuiditas tambahan dari dana global.
Azharys menilai inflow adalah indikator penting bagi investor. Meski begitu, perubahan sentimen global disebut dapat memicu volatilitas dalam waktu singkat.