Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia masih bergerak stabil. Inflasi berada di 2,86 persen, sesuai sasaran Bank Indonesia.
Indeks Harga Konsumen naik dari 108,74 pada September menjadi 109,04 pada Oktober, menandakan daya beli masih terjaga.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 mencapai 5,04 persen, dengan proyeksi kuartal IV di kisaran 5,6 persen.
Program Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) juga membantu meningkatkan konsumsi domestik.
Sektor finansial dan energi turut menopang reli, dengan IDXFinance naik 4,12 persen dan IDXEnergy melesat 14,7 persen sepanjang November.
Sentimen global juga memberi angin positif.
Probabilitas pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada Desember berada di level 84 persen.
Likuiditas yang keluar dari pasar Amerika Serikat biasanya bergerak ke negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memberi dorongan bagi harga saham dan inflow asing.
Namun Azharys menegaskan dinamika global bergerak cepat.
Pemerintah menyarankan investor memantau kebijakan The Fed, memperluas diversifikasi, dan mempertimbangkan obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren naik jangka panjang. Untuk jangka pendek, indeks diproyeksikan menguji support 8.460 sebagai bagian dari retracement.
Target teknikal berikutnya berada pada 9.024, berdasarkan rasio Fibonacci.