BREAKING NEWS
Senin, 26 Januari 2026

Rupiah Melemah ke Rp16.662 per Dolar AS

Abyadi Siregar - Jumat, 05 Desember 2025 10:36 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.662 per Dolar AS
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN — Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah pada awal perdagangan Jumat, 5 Desember 2025.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada posisi Rp16.662 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,05 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan indeks dolar yang naik tipis ke level 99,00, sekaligus mencerminkan menguatnya tekanan eksternal terhadap mata uang kawasan.

Baca Juga:

Sejumlah mata uang Asia lain juga turut tertekan, seperti dolar Taiwan yang melemah 0,08 persen, peso Filipina turun 0,11 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,09 persen.

Sementara itu, beberapa mata uang utama Asia justru menunjukkan penguatan.

Yen Jepang menguat 0,03 persen, dolar Singapura naik 0,03 persen, won Korea Selatan menguat 0,16 persen, yuan China naik 0,02 persen, dan rupee India menguat 0,24 persen.

Pada perdagangan sebelumnya, Kamis, 4 Desember 2025, rupiah ditutup melemah lebih dalam sebesar 0,15 persen ke level Rp16.653 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif sepanjang hari ini namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.650–Rp16.690 per dolar AS.

Menurut dia, tekanan eksternal masih dominan memengaruhi pergerakan rupiah.

Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) terus meningkat, terutama setelah rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan penurunan signifikan.

Laporan ADP mencatat tenaga kerja swasta menyusut 32.000 pada November, memperkuat spekulasi perlambatan ekonomi.

Situasi kian menarik setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan membatalkan wawancara dengan beberapa kandidat pengganti Jerome Powell.

Hal ini memunculkan spekulasi bahwa Kevin Hassett menjadi kandidat terkuat sebagai ketua The Fed berikutnya, yang dipandang pasar akan mendorong kebijakan moneter lebih dovish.

"Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga semakin besar. CME FedWatch mencatat peluang 90 persen The Fed memangkas suku bunga pada pertemuan mendatang," ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, rupiah dibayangi revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan 2025 diperkirakan berada di rentang 5–5,1 persen, lebih rendah dari target APBN 2025 yang sebesar 5,2 persen.

Ibrahim menyebut pemerintah perlu memperkuat sisi fiskal untuk menahan perlambatan ekonomi pada akhir 2025.

"Belanja pemerintah harus terus digenjot untuk menjaga momentum pertumbuhan," katanya.

Di tengah tekanan global yang meningkat, pelaku pasar masih menantikan sinyal kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjelang akhir tahun.*


(bi/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Dibuka Menguat, Saham CUAN hingga CDIA Jadi Motor Penggerak Pasar
UMKM Sumatera Bangkit Pascabencana! Pemerintah Siapkan Skema Pemulihan, Bank Sumut Tunggu Aturan OJK
KKN Fasilkom Ubhara Jaya Dorong UMKM Sawarna Go Digital Lewat Workshop Affiliate
Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi Aceh, Sumut, dan Sumbar Terdampak Banjir? Ini Kata Airlangga
“Batu Bara Lumpuh Sejak Subuh” — Ribuan Kendaraan Serbu Seluruh SPBU, Antrean Mengular Sejauh Mata Memandang
Peresmian Perubahan APBDes 2025: Koperasi ‘Merah Putih’ Diharapkan Lebih Memberdayakan Masyarakat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru