Namun, kenaikan aset kripto terbesar dunia ini masih tertahan oleh kekhawatiran pasar terkait dampak lanjutan serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela.
Dikutip dari Investing, pukul 01.33 ET (06.33 GMT), harga BTC tercatat naik 1,1 persen ke level 92.264,5 dollar AS atau sekitar Rp 1,54 miliar.
Kenaikan ini dipicu sentimen positif terhadap sektor teknologi, yang dipengaruhi optimisme investor atas perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Meskipun demikian, sepanjang 2025 Bitcoin masih mencatat penurunan 6,4 persen.
Pelemahan ini terjadi karena minat investor mereda pada paruh kedua tahun lalu, di tengah meningkatnya keraguan terhadap prospek jangka panjang sektor kripto.
Penguatan Bitcoin dibatasi oleh ketidakpastian geopolitik akibat serangan AS ke Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Pemerintah AS menyatakan akan mengambil alih sementara Venezuela hingga pemimpin baru terpilih, sekaligus membuka industri minyak negara tersebut.
Aksi ini memicu kecaman dari sejumlah negara Amerika Latin, serta Rusia dan China.
Ketidakpastian global mendorong permintaan aset lindung nilai, sehingga harga emas dan dollar AS mencatat kenaikan signifikan.
Penguatan Bitcoin di awal 2026 sebagian juga didorong aksi beli murah setelah penurunan tajam sepanjang 2025.
Ether, kripto terbesar kedua, tercatat stagnan di level 3.144,41 dollar AS. XRP naik 2,1 persen, BNB menguat 1 persen, sedangkan Solana dan Cardano masing-masing naik kurang dari 1 persen.