JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan hari ini, Rabu (14/1/2026), meski masih berada di level terlemah sejak akhir April 2025.
Mengutip data Bloomberg pukul 09.12 WIB, rupiah terapresiasi 0,06% atau 10 poin ke Rp16.867 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat 0,09% ke level 99,22.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif, dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp16.870–Rp16.900.
"Sentimen pasar masih tertekan oleh perkembangan global yang tidak biasa. Perseteruan politik antara Presiden AS Donald Trump dengan Ketua The Fed Jerome Powell, termasuk penyelidikan kriminal terhadap Powell, menurunkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter Amerika," ujar Ibrahim, Selasa (13/1/2026).
Selain itu, demonstrasi anti-pemerintah di Iran dan sikap AS terkait tarif 25% terhadap negara yang berbisnis dengan Iran turut memengaruhi persepsi risiko pasar.
Eskalasi konflik Rusia-Ukraina, dengan serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak dan terminal ekspor Rusia, juga menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah.
Dari dalam negeri, langkah kebijakan pemerintah turut diperhatikan pelaku pasar.
Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik penempatan dana di bank sebesar Rp75 triliun dinilai tidak mengganggu penyaluran kredit perbankan.
"Likuiditas perbankan saat ini aman, terlihat dari kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan sebesar Rp2,50 triliun atau 23,18% dari plafon kredit," jelas Ibrahim.
Data Trading Economics mencatat, rupiah melemah 1,03% dalam sebulan terakhir dan 3,08% selama 12 bulan terakhir.
Ke depan, ekspektasi pelonggaran moneter global diprediksi menahan penguatan rupiah.
Model makro global Trading Economics memperkirakan rupiah diperdagangkan di Rp16.774 pada akhir kuartal ini, dan bisa mencapai Rp16.534 dalam 12 bulan mendatang.