Posisi rupiah masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
"Saat ini rupiah berpotensi melemah seiring meningkatnya ketegangan perdagangan global. Pernyataan Presiden Trump terkait rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran menjadi faktor utama," ujar Josua.
Pada Selasa (13/1/2026), Presiden AS Donald Trump menegaskan akan mengenakan tarif 25 persen kepada negara mana pun yang melakukan transaksi perdagangan dengan Iran.
Kebijakan ini berlaku segera dan bersifat final, memicu kekhawatiran pasar terhadap gejolak perdagangan internasional.
China, sebagai importir minyak Iran terbesar, diprediksi akan menjadi salah satu negara yang terdampak langsung.
Selain isu geopolitik, kondisi ekonomi AS juga memengaruhi rupiah. Data inflasi AS Desember 2025 menunjukkan angka 2,7 persen (yoy), sementara inflasi inti berada di level 2,6 persen.
Penjualan rumah baru di AS tetap stabil, menunjukkan permintaan konsumen yang tangguh.
Situasi ini memberi ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, yang berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Negara-negara mitra dagang Iran yang berpotensi terdampak kebijakan ini antara lain:
- China: Importir utama minyak Iran, menyerap lebih dari 80 persen total ekspor minyak Iran. - India: Nilai perdagangan bilateral mencapai 1,34 miliar dolar AS pada 10 bulan pertama 2025. - Turkiye: Ekspor ke Iran 2,3 miliar dolar AS, impor dari Iran 2,2 miliar dolar AS sepanjang 2025. - Jerman, Korea Selatan, Jepang: Memiliki hubungan perdagangan lebih terbatas namun tetap terdampak.