Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengatakan sejumlah negara dengan teknologi pengolahan logam ini menutup diri untuk kerja sama, dan lebih memilih membeli mineral dari Indonesia daripada berbagi teknologi.
"Bagian tersulit adalah tata kelola teknologi. Kami sudah mengunjungi beberapa negara untuk membahas kemungkinan pengembangan bersama, tetapi hampir semua menolak. Mereka hanya mau membeli bahan mentah," ujar Brian dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).
Pemerintah Indonesia, menurutnya, telah melakukan riset dan pengembangan di dalam negeri, meski saat ini masih pada tahap awal pemisahan mineral menjadi mixed rare earth oxide.
"Kalau sampai ke elemen murni, itu yang belum ada di dalam negeri. Kami sedang membujuk beberapa negara dengan imbal balik berupa kemungkinan mereka menjadi offtaker, tapi masih ada proses negosiasi yang panjang," tambahnya.
Selain itu, tata kelola pasar menjadi fokus utama pemerintah. Brian menekankan perlunya pengamanan pasokan nasional dan identifikasi calon offtaker untuk ekspor.
"Kami akan merekomendasikan berapa banyak yang bisa diekspor, dan berapa yang harus ditahan di dalam negeri. Kondisi sosial politik yang dinamis membuat kami harus melaporkan hal ini secara tepat waktu kepada Presiden," pungkasnya.
Situasi ini menunjukkan Indonesia memiliki peluang besar di sektor mineral strategis, tetapi penguasaan teknologi tetap menjadi kendala utama sebelum mampu melakukan downstreaming secara mandiri.*
(d/dh)
Editor
: Adam
RI Memiliki Harta Karun Rare Earth, Namun Banyak Negara Enggan Kerja Sama Pengembangan Teknologi