BREAKING NEWS
Jumat, 13 Februari 2026

RI Memiliki Harta Karun Rare Earth, Namun Banyak Negara Enggan Kerja Sama Pengembangan Teknologi

Nurul - Senin, 09 Februari 2026 17:57 WIB
RI Memiliki Harta Karun Rare Earth, Namun Banyak Negara Enggan Kerja Sama Pengembangan Teknologi
Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto. (Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTAIndonesia menghadapi tantangan besar dalam pengembangan logam tanah jarang (rare earth) yang menjadi incaran dunia.

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengatakan sejumlah negara dengan teknologi pengolahan logam ini menutup diri untuk kerja sama, dan lebih memilih membeli mineral dari Indonesia daripada berbagi teknologi.

"Bagian tersulit adalah tata kelola teknologi. Kami sudah mengunjungi beberapa negara untuk membahas kemungkinan pengembangan bersama, tetapi hampir semua menolak. Mereka hanya mau membeli bahan mentah," ujar Brian dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

Baca Juga:

Brian menjelaskan bahwa pengembangan teknologi pengolahan logam tanah jarang memang kompleks, sehingga negara-negara lain lebih memilih mengelola sumber daya tersebut secara mandiri.

Pemerintah Indonesia, menurutnya, telah melakukan riset dan pengembangan di dalam negeri, meski saat ini masih pada tahap awal pemisahan mineral menjadi mixed rare earth oxide.

"Kalau sampai ke elemen murni, itu yang belum ada di dalam negeri. Kami sedang membujuk beberapa negara dengan imbal balik berupa kemungkinan mereka menjadi offtaker, tapi masih ada proses negosiasi yang panjang," tambahnya.

Selain itu, tata kelola pasar menjadi fokus utama pemerintah. Brian menekankan perlunya pengamanan pasokan nasional dan identifikasi calon offtaker untuk ekspor.

"Kami akan merekomendasikan berapa banyak yang bisa diekspor, dan berapa yang harus ditahan di dalam negeri. Kondisi sosial politik yang dinamis membuat kami harus melaporkan hal ini secara tepat waktu kepada Presiden," pungkasnya.

Situasi ini menunjukkan Indonesia memiliki peluang besar di sektor mineral strategis, tetapi penguasaan teknologi tetap menjadi kendala utama sebelum mampu melakukan downstreaming secara mandiri.*

(d/dh)

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Hari Pers Nasional 2026: Maruli Siahaan Tekankan Peran Pers sebagai Pengawal Nurani Publik
Istana Terima Undangan Board of Peace AS, Kehadiran Presiden Prabowo Masih Ditunggu untuk Penandatanganan Kesepakatan Dagang
Bupati Simalungun Pimpin ASN Bersih-bersih Usai Apel Pagi, Dorong Budaya Lingkungan Sehat dan Indonesia ASRI
Bupati Simalungun dan Forkopimda Sambut Wagubsu di Parapat, Pencanangan Gerakan Indonesia ASRI Jadi Momentum Lingkungan Bersih dan Sehat
Parodi Lagu Bento, Noel Ebenezer Kritisi KPK: “Giliran Kelas Kakap Tidak Pernah Kau Tangkap”
Rosan Roeslani Buka Suara soal Rencana Negara Ambil Alih Tambang Emas Martabe
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru