MEDAN – Harga aluminium batangan di Sumatera Utara dilaporkan melonjak hingga 20 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini menjadi beban bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya para perajinaluminium, yang harus menanggung biaya produksi lebih tinggi.
Sejumlah pelaku usaha menyebut lonjakan harga bahan baku terjadi tanpa penjelasan rinci mengenai penyebabnya.
Kondisi ini dinilai memberatkan, terutama di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih."Kenaikan harga bahan baku sangat terasa. Biaya produksi naik, sementara permintaan justru menurun," kata salah seorang perajinaluminium di Medan, Rabu (12/2/2026).
Para pelaku UMKM mengaku berada dalam dilema. Jika harga jual produk dinaikkan, dikhawatirkan konsumen akan menurun. Namun, jika harga tetap, margin keuntungan menjadi sangat tipis.
Mereka berharap pemerintah dapat turun tangan untuk memantau dan mengendalikan harga bahan baku aluminium. Transparansi mengenai faktor penyebab kenaikan – apakah akibat fluktuasi pasar global, distribusi, atau kebijakan industri – dianggap penting agar pelaku usaha dapat menyesuaikan strategi produksi dan penjualan.
Pengamat ekonomi daerah menilai fluktuasi harga logam memang kerap dipengaruhi dinamika pasar internasional dan nilai tukar rupiah. Namun, pengawasan distribusi dan stabilisasi pasokan tetap diperlukan untuk menjaga iklim usaha di daerah.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, para pelaku UMKM khawatir banyak usaha kecil perajinaluminium terpaksa mengurangi produksi, bahkan menghentikan operasionalnya.
Pemerintah daerah diharapkan segera berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan stabilitas harga dan keberlangsungan usahaUMKM di Sumatera Utara.*