BREAKING NEWS
Sabtu, 14 Februari 2026

Larangan Ekspor Meluas? Usai Nikel, Bahlil Sinyalkan Timah Jadi Target Berikutnya

Dharma - Sabtu, 14 Februari 2026 13:10 WIB
Larangan Ekspor Meluas? Usai Nikel, Bahlil Sinyalkan Timah Jadi Target Berikutnya
Timah. (foto: pt timah tbk)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tengah mengkaji penghentian ekspor sejumlah komoditas mineral mentah, termasuk timah.

Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari larangan ekspor bijih nikel dan bauksit yang telah diterapkan sebelumnya.

"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/2/2026).

Baca Juga:

Menurut dia, kebijakan hilirisasi menjadi strategi utama pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

Produk hasil hilirisasi ditargetkan mampu menggantikan barang impor dan menciptakan pasar domestik yang kuat (captive market).

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp 618 triliun.

Proyek tersebut mencakup hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga pembangunan kilang minyak.

Bahlil menilai kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang dimulai pada 2018–2019 telah membuahkan hasil signifikan.

Ia menyebut total ekspor nikel Indonesia yang semula hanya sekitar USD 3,3 miliar pada 2018–2019 melonjak menjadi USD 34 miliar pada 2024.

"10 kali lipat hanya dalam waktu lima tahun. Inilah yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata dan menciptakan lapangan pekerjaan," ujarnya.

Pemerintah memperkirakan hingga 2040 program hilirisasi di berbagai sektor dapat menarik investasi hingga USD 618 miliar.

Dari jumlah tersebut, sekitar USD 498,4 miliar berasal dari subsektor mineral dan batu bara (minerba), serta USD 68,3 miliar dari minyak dan gas bumi (migas).

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kunjungan Kerja di Pontianak, DPR RI Pastikan Proyek Smelter Mempawah Berjalan Sesuai Target
Bareskrim Tahan Eks Dirut PT Dana Syariah Indonesia, Kerugian Capai Rp2,4 Triliun
Jelang Ramadan, Harga Beras Turun Tapi Cabai Rawit Melonjak Tembus Rp70.000/kg
Prabowo: 10 Universitas Baru Akan Cetak Pemimpin Bersih, Generasi Muda Siap Gantikan Pejabat Korup!
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp50 Ribu, 1 Gram Tembus Rp2,954 Juta!
UMKM Kini Mudah Dapat Pinjaman Rp500 Juta dengan Cicilan Ringan, Cek Simulasi Angsuran KUR BNI 2026!
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru