"Regulasi harus ketat, pengawasan independen, dan komunikasi publik terbuka untuk membangun kepercayaan masyarakat," ujarnya.
Selain itu, faktor geopolitik juga menjadi variabel penting.
Dinamika perdagangan global dan relasi dengan negara pemasok teknologi bisa memengaruhi pilihan mitra strategis, sehingga kedaulatan dan kepentingan nasional harus tetap dijaga.
Perkembangan teknologi reaktor generasi baru menjadi pertimbangan.
Sejumlah negara kini mengadopsi reaktor modular dengan sistem keselamatan pasif, yang memungkinkan komponen diproduksi standar sebelum dirakit di lokasi.
Di Indonesia, PT Thorcon Power Indonesia mengusulkan reaktor modular berbasis molten salt reactor (MSR), dengan kapasitas 2 x 250 MW, beroperasi pada temperatur tinggi dengan tekanan rendah, disebut lebih aman dibanding PLTN konvensional.
Adopsi teknologi baru memerlukan uji kelayakan, regulasi adaptif, serta kesiapan sumber daya manusia.
Dengan target awal 500 MWe dan proyeksi hingga 7 GWe pada 2040, energi nuklir masuk dalam dokumen perencanaan strategis nasional.
Eddy menegaskan, diskursus publik dan perencanaan matang harus dimulai sejak sekarang.
"Dengan regulasi ketat, perencanaan komprehensif, dan pilihan teknologi tepat, ketahanan energi dan komitmen iklim Indonesia bisa berjalan beriringan," tutup Eddy.
Di tengah tekanan perubahan iklim dan tuntutan pertumbuhan ekonomi, nuklir kini bukan sekadar opsi alternatif.
Ia menjadi instrumen strategis yang, jika dikelola cermat, dapat menjadi fondasi baru ketahanan energi nasional.*