JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, yang memicu penutupan Selat Hormuz oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Jalur strategis perdagangan energi ini menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia ke Laut Arab, dan menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta 20–25 persen perdagangan LNG global.
Harga minyak mentah mulai merangkak naik, sementara sejumlah perusahaan energi global menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dunia pun meningkat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan pemerintah Indonesia akan bergerak cepat.
Ia menyebut akan menggelar rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN) untuk mengevaluasi kondisi terkini pasokan minyak dan ketahanan cadangan nasional.
"Saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional. Setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian dari DEN," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/3/2026).
Meski kenaikan harga minyak dunia belum signifikan, Bahlil menegaskan tren ini perlu diwaspadai.
Cadangan minyak nasional diperkirakan masih cukup untuk sekitar 20 hari ke depan, dan subsidi energi domestik belum terdampak.
Namun, situasi global yang terus berkembang bisa memicu koreksi harga lebih lanjut.
Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat mengandalkan Selat Hormuz untuk menyalurkan minyak mentah ke pasar Asia.
Sementara Qatar mengirim hampir seluruh ekspor LNG-nya melalui jalur tersebut.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah Indonesia kini menunggu hasil analisis resmi dari DEN sebagai dasar menentukan langkah strategis menjaga ketahanan energi nasional.*