Rupiah ditutup di level Rp16.893 per USD, melemah tujuh poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.886 per USD, menurut data Bloomberg.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah berada di level Rp16.899 per USD, melemah dari posisi Rp16.867 per USD pada perdagangan sebelumnya.
Data Yahoo Finance juga menunjukkan pelemahan rupiah tipis, yakni 23 poin atau 0,14 persen dari Rp16.862 per USD.
Gangguan Pasokan Energi Jadi Pemicu
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh sentimen global, terutama gangguan di pasar energi.
Iran memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel, menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan gas yang menjadi jalur vital bagi Asia.
"Sentimen pasar terpengaruh oleh risiko gangguan pasokan energi, yang berpotensi memberi tekanan pada mata uang negara-negara importir energi, termasuk rupiah," ujar Ibrahim.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat (CPI) yang akan dirilis pada minggu ini. Inflasi utama AS diperkirakan tetap stabil di 2,4 persen (yoy), sementara CPI inti diprediksi 2,5 persen.
Data ini dinilai penting untuk memperkirakan arah suku bunga dan kesehatan ekonomi global pasca-konflik di Teluk.
Pergerakan Pasar
Meskipun pelemahan rupiah tipis, sentimen global tetap menjadi perhatian investor karena harga energi yang fluktuatif berpotensi menekan perdagangan mata uang dan pasar modal domestik.