Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (10/4/2026). Pelemahan terjadi di tengah sentimen global yang masih bergejolak.
Berdasarkan data pasar, rupiah turun 14 poin atau 0,08% ke level Rp17.104 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah datang dari faktor eksternal, terutama terkait kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga:
Menurutnya, meski sempat terjadi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, situasi masih belum stabil. Konflik yang melibatkan Israel dan dinamika kawasan turut memicu ketidakpastian pasar.
"Pasar masih mencermati perkembangan konflik dan dampaknya terhadap jalur perdagangan energi global," ujarnya.
Selain itu, pasar juga menunggu rilis data inflasi AS yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga bank sentral Federal Reserve.
Dari dalam negeri, sentimen relatif positif. Survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan kondisi ekonomi masyarakat masih berada di level optimistis pada Maret 2026, meski sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2026-2027, meski di tengah perlambatan kawasan Asia akibat ketidakpastian global.
Ke depan, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Dalam jangka pendek, mata uang Garuda berpotensi berada di kisaran Rp17.110-Rp17.160 per dolar AS.*
(oz/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.