BREAKING NEWS
Senin, 08 Juni 2026

Australia hingga Brasil Berebut Impor Pupuk RI, Pemerintah Utamakan Kebutuhan Petani Dalam Negeri

Nurul - Kamis, 16 April 2026 09:06 WIB
Australia hingga Brasil Berebut Impor Pupuk RI, Pemerintah Utamakan Kebutuhan Petani Dalam Negeri
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4/2026) (Foto: Dok. Kementan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Sejumlah negara mulai melirik Indonesia sebagai pemasok pupuk urea di tengah gangguan pasokan global. Mulai dari Australia hingga Brasil disebut tertarik mengimpor pupuk dari Tanah Air.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan, meningkatnya permintaan ini dipicu oleh disrupsi rantai pasok global, termasuk dampak konflik geopolitik dan terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz.

"Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik," ujar Sudaryono dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga:

Saat ini, kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,3 hingga 9,4 juta ton per tahun. Untuk tahun 2026, produksi ditargetkan mencapai 7,8 juta ton.

Dari jumlah tersebut, kebutuhan pupuk subsidi dalam negeri diperkirakan mencapai 6,3 juta ton. Artinya, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 juta ton yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan global.

Sudaryono menegaskan, pemerintah tetap mengutamakan kebutuhan petani dalam negeri sebelum membuka keran ekspor.

"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," tegasnya.

Selain Australia, minat terhadap pupuk urea Indonesia juga datang dari negara lain seperti India, Filipina, hingga Brasil. Meski demikian, pemerintah berhati-hati agar tidak overcommit terhadap permintaan ekspor.

Di sisi lain, hubungan perdagangan pupuk Indonesia dengan Australia disebut bersifat timbal balik. Indonesia mengekspor urea, namun juga mengimpor bahan baku seperti fosfat dan DAP dari negara tersebut.

"Ini hubungan yang resiprokal, kita saling membutuhkan," jelas Sudaryono.

Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Jika terjadi kelangkaan di tingkat kios, hal itu disebut lebih disebabkan oleh distribusi yang sedang berjalan cepat.

"Dalam 1-2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup," tambahnya.

Ke depan, pemerintah berencana melakukan modernisasi dan peremajaan pabrik pupuk nasional guna meningkatkan efisiensi serta kapasitas produksi. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting di pasar pupuk global.*

(dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ditawari Utang oleh IMF, Menkeu Purbaya Tegaskan Kondisi Keuangan RI Masih Solid
BMKG Tegaskan Kemarau 2026 Lebih Kering, Tapi Bukan yang Terparah dalam 30 Tahun
Misi Perdamaian UNIFIL Berakhir, Panglima TNI Ungkap Kepulangan Prajurit dari Lebanon
Kemnaker Gandeng TikTok, Siapkan Talenta Digital dan Buka Peluang Kerja Baru di Era Ekonomi Digital
Baleg DPR Sepakat Bentuk Badan Khusus Satu Data Indonesia dalam RUU SDI
Unmuha dan Bank Indonesia Aceh Teken Kerja Sama Pendidikan Kebanksentralan 2026, Siapkan Generasi Hadapi Ekonomi Global
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru